ELTV SATU ||| CIREBON – Di sebuah sudut Desa Cirebon Girang, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, hidup seorang lelaki yang menjalani hari-harinya jauh dari hiruk pikuk dunia. Abang Rahman (50) memilih jalan sunyi yang jarang dilalui orang kebanyakan. Selama 27 tahun, ia tidak mengonsumsi nasi dan makanan yang berasal dari makhluk bernyawa, sebuah laku tirakat yang diyakininya sebagai jalan pencarian jati diri.
Bagi Abang Rahman, tirakat bukan sekadar pantangan makan, melainkan proses panjang menata batin. Ia meyakini laku tersebut sebagai upaya penyempurnaan diri, selaras dengan nilai-nilai spiritual yang diwariskan leluhur, yang ia pahami melalui pemaknaan Sanghyang Dewi Sri dan Sanghyang Buduk Basu. Setiap hari dijalani dengan kesederhanaan, kesadaran, dan pengendalian diri.
Menariknya, di tengah laku hidup yang ketat itu, Abang Rahman mengaku tetap sehat dan jarang tersentuh penyakit. Ia percaya keseimbangan antara raga dan batin menjadi kunci utama. Tirakat yang dijalaninya justru membuatnya lebih peka membaca tanda-tanda kehidupan dan alam sekitar.
“Selama 27 tahun saya menjalani tirakat tanpa mengonsumsi nasi dan makanan yang bernyawa sebagai jalan pencarian jati diri. Laku ini saya yakini sebagai upaya penyempurnaan diri agar hidup tetap sehat, jauh dari penyakit, dan selaras dengan alam. Dalam perjalanan itu, sering muncul bisikan batin tentang peristiwa yang akan datang, namun semua dijalani dengan rendah hati dan penuh kehati-hatian,” tutur Abang Rahman pelan.
Namun, ia menegaskan bahwa bisikan batin yang dirasakannya bukan untuk dikultuskan. Baginya, semua itu hanyalah pengingat agar manusia senantiasa waspada, menjaga sikap, dan tidak melampaui batas. Tirakat, menurutnya, adalah jalan pengendalian diri, bukan pembenaran atas keistimewaan.
Di usia setengah abad, Abang Rahman masih setia menapaki laku sunyi itu. Bukan untuk mencari pengakuan, apalagi kekaguman. Ia hanya ingin hidup selaras dengan alam dan nilai luhur, menyempurnakan diri dalam diam, di tengah dunia yang kian bising.
Catatan Redaksi: Cerita dalam artikel ini merupakan kisah nyata yang dihimpun berdasarkan penuturan langsung dari narasumber terkait, Abang Rahman, warga Desa Cirebon Girang, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon.


















