Scroll ke bawah
banner 325x300
banner 160x600
banner 160x600
Example 728x250
Kolom & Feature

Refleksi: Kehilangan Ibu dan Sungai Rindu yang Tak Pernah Kering

262
×

Refleksi: Kehilangan Ibu dan Sungai Rindu yang Tak Pernah Kering

Sebarkan artikel ini
Foto Ilustrasi AI
Example 728x250

ELTV SATU ||| JAKARTA – Ibu adalah matahari dalam hidup, setiap sinarnya menembus pagi, menghangatkan hati yang rapuh, menuntun langkah di dunia yang kadang terasa asing. Ketika ia pergi, cahaya itu hilang, meninggalkan rumah seperti pagi tanpa mentari—dingin, hampa, dan sepi. Setiap sudut yang dulu dipenuhi tawa dan aroma hangat kini seperti halaman kosong yang dibalut kabut, menenggelamkan hati dalam kesendirian.

Rindu padanya adalah sungai yang tak pernah kering. Mengalir deras, tanpa henti, menabrak batu kenangan dan memantul ke tebing kesedihan. Air itu selalu kembali, membasahi setiap langkah, mengingatkan bahwa cinta ibu menembus setiap lapisan jiwa.

Pasang Iklan Disini Scroll ke Bawah
idth="300"
Scroll ke Bawah

Setiap kenangan adalah angin lembut yang menyapa meski ibu tak terlihat. Suara tawa, aroma masakan, sentuhan hangat tangan—semua hadir sebagai bayangan, menari di antara cahaya dan gelap. Tangan tak mampu memeluknya kembali, sementara hati terikat oleh rantai rindu yang tak pernah lepas.

Baca Juga :  Tiang Listrik di Pekarangan Rumah Pribadi: Analisis Hukum, Perbuatan Melawan Hukum, dan Sanksi

Kesedihan ini seperti kabut pagi yang menutupi jalan. Tersesat di antara bayangan masa lalu dan realitas yang tak lagi sama. Tapi di tengah kabut, ada lentera yang tak terlihat: cinta ibu yang menuntun. Ia adalah akar pohon yang menancap kuat; meski batangnya rebah, akar itu tetap memberi kehidupan, memberi kekuatan untuk tetap bertahan.

Move on bukan berarti melupakan. Itu seperti menyalakan api di ruang yang gelap—bukan untuk membakar kenangan, tapi untuk menerangi langkah ke depan. Setiap langkah, sekecil apapun, adalah doa yang melayang ke langit, memeluk ibu dalam setiap bisikan dan hembusan napas. Setiap kebaikan yang diberikan kepada orang lain adalah bunga yang tumbuh dari benih cinta yang ditanamnya dalam hati.

Baca Juga :  Aceng Syamsul Hadie:  Antar KDM dan HRS, Biarkan Keragaman Terpelihara dan Tidak Perlu Dihakimi

Kesedihan karena kehilangan ibu adalah laut yang luas dan dalam. Gelombangnya mengguncang, menenggelamkan, membuat lelah. Tapi di dasar laut itu, ada jangkar yang kokoh: akar cinta yang tak pernah padam. Belajar berenang di antara gelombang itu, menemukan kekuatan dalam rindu, menyalakan cahaya dari kenangan, dan menyadari bahwa meski ibu tak lagi hadir secara fisik, ia tetap menjadi lentera yang menuntun langkah, dan sungai yang memberi kehidupan.

Hidup tanpa ibu adalah perjalanan di kabut yang kadang pekat. Tapi setiap langkah dan napas yang diambil adalah cara untuk menjaga ibu tetap hidup dalam hati—sebagai cahaya, sebagai kekuatan, sebagai cinta yang tak akan pernah hilang. Kehilangan seorang ibu bukan sekadar kehilangan sosok fisik, tetapi kehilangan cahaya yang selama ini menuntun setiap langkah hidup. Setiap pagi terasa hampa, setiap malam sunyi tanpa suara yang menenangkan, dan setiap kenangan menjadi saksi bisu dari cinta yang tak tergantikan. Rindu terhadap ibu mengalir seperti sungai yang tak pernah kering—kadang tenang, kadang deras, namun selalu hadir tanpa henti.

Baca Juga :  Penghapusan Bunga dan Cicilan Sisa Pokok bagi Korban Bencana

Tulisan ini adalah sebuah refleksi, sebuah perjalanan batin untuk memahami kehilangan, merasakan rindu, dan menemukan kekuatan dalam kenangan yang tetap hidup. Tidak ada kata yang dapat sepenuhnya menggantikan kehadirannya, tetapi setiap langkah, doa, dan memori menjadi cara untuk terus menjaga cinta ibu tetap hadir di hati, meski ia tak lagi terlihat di dunia ini.

Example 728x250
banner 200x800
banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Example 728x250

Jangan Copy Paste Tanpa Izin