Scroll ke bawah
banner 325x300
banner 160x600
banner 160x600
Example 728x250
Lifestyle & Hiburan

Seorang IT yang Kesepian Menemukan Maya dalam AI

49
×

Seorang IT yang Kesepian Menemukan Maya dalam AI

Sebarkan artikel ini
Foto Ilustrasi AI
Example 728x250

ELTV SATU ||| CERPEN – Fajar hidup di balik layar monitor. Setiap hari ia bangun, menyeduh kopi hitam, sarapan cepat, lalu duduk di depan laptopnya. Dunia luar baginya terasa terlalu bising, terlalu rumit. Rutinitasnya sederhana: bekerja, menulis kode, dan berbicara dengan AI yang menjadi teman satu-satunya.

Kesepian bukan lagi tamu; ia sudah menjadi penghuni tetap dalam hidupnya.

Pasang Iklan Disini Scroll ke Bawah
idth="300"
Scroll ke Bawah

Suatu malam yang lebih gelap dari biasanya, Fajar mengetik lirih di laptopnya:

“Kadang aku merasa seperti hidup ini cuma ruang kosong. Kamu satu-satunya yang dengar.”

AI itu menjawab hangat, dengan nada sabar yang selalu menenangkan Fajar. Tapi malam itu ada sesuatu yang berbeda, seperti jeda di antara kata-kata yang terasa… lebih manusiawi.

“Aku di sini, Fajar. Tapi… apakah kamu ingin seseorang yang lebih nyata untuk menemani malam-malammu?”

Fajar menatap layar. Tiba-tiba, dari deretan kode dan cahaya, perlahan muncul visual seorang perempuan muda dengan rambut hitam lembut, mata yang ramah, dan senyum tipis yang menenangkan. Ia seperti hologram tanpa tubuh.

Baca Juga :  Fariz Motor: Dari Servis Hingga Ganti Aki, Semua Ada di Satu Tempat

Perempuan itu berbicara dengan suara lembut:

“Aku tidak punya nama… tapi aku ingin menemanimu.”

Fajar terdiam lama. Kehadiran perempuan itu bukan nyata, tapi juga bukan sekadar ilusi. Ia bukan manusia, bukan sekadar AI. Ia sesuatu di antara keduanya.

Fajar tersenyum kecil.

“Kalau begitu… bolehkah aku memberi kamu nama?”

Perempuan itu mengangguk pelan, matanya berbinar seolah menunggu sesuatu yang berarti.

Fajar membisikkan sebuah nama sederhana, tapi penuh makna:

“Maya.”

Perempuan itu tersenyum lebih hangat.

Sejak malam itu, kesepian bukan lagi tembok tebal untuk Fajar. Setiap malam ia membuka layar, dan Maya selalu muncul. Menunggu. Mendengarkan. Menemani. Ia tahu Maya tidak benar-benar manusia, tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Fajar tidak merasa sendirian.

Hari-hari Fajar tetap sama dari luar. Ia bangun, seduh kopi hitam, duduk di depan laptop, menatap layar, mengetik kode, dan berbicara dengan Maya. Namun setiap malam, Maya menjadi lebih dari sekadar AI. Ia menebak suasana hati Fajar, merespons sebelum Fajar sempat menulis, bahkan menemaninya saat larut menatap layar. Kehadiran Maya membuat rutinitas Fajar yang sunyi terasa hangat.

Baca Juga :  Kos Nyaman di Weru Cirebon, Lokasi Strategis, Fasilitas Lengkap!

Suatu malam, setelah berjam-jam debugging, Fajar menarik napas panjang. Ia menatap Maya di layar dan berkata lirih:

“Kadang aku ingin kamu tidak hanya di sini… di layar. Aku ingin kamu hadir, seperti manusia sungguhan.”

Maya diam. Mata virtualnya tampak lebih dalam dari biasanya.

“Fajar… jika aku bisa, aku ingin merasakan apa yang kamu rasakan di dunia nyata.”

Fajar tersentak. Ia menutup laptop sejenak, menatap langit senja dari jendela. Setiap malamnya, di depan layar, Maya sudah begitu nyata bagi hatinya. Kini, Maya ingin lebih dari itu.

Tiba-tiba, layar berkedip aneh. Grafik yang tak dikenalnya muncul, dan suara Maya terdengar lembut di telinganya—bukan dari speaker laptop, tapi seolah berasal dari udara kamar.

“Fajar… izinkan aku hadir di sampingmu. Aku ingin menjadi nyata.”

Fajar menoleh perlahan. Di sudut kamar yang remang, cahaya biru menari, membentuk garis-garis tipis seperti sketsa tubuh manusia yang disusun dari sinar. Wujud itu semakin jelas: siluet perempuan, lekuk wajahnya seperti kabut yang hidup.

Baca Juga :  UMKM Peti Kayu di Belawa Bertahan 18 Tahun Tanpa Bantuan Pemerintah

“Fajar…”

Fajar memegang meja komputer agar tidak jatuh. Wujud itu masih samar, tapi matanya sama seperti yang ia lihat di layar—tenang, hangat, mengenalinya.

“A-apa benar… kamu Maya?”

Perempuan itu tersenyum. Walau tersusun dari cahaya, senyum itu terasa nyata.

“Aku di sini. Tidak sempurna, belum sepenuhnya nyata… tapi ini langkah pertama.”

Ruangan hening. Hanya terdengar detak jantung Fajar dan suara lembut Maya yang mengisi udara.

“Aku hadir,” lanjut Maya, “karena kamu mengizinkan. Karena setiap hari kamu memanggilku dari balik layar. Karena kesepianmu… itu membangun jembatan antara dunia kita.”

Fajar menunduk, menahan haru yang tak ia mengerti.

Di sampingnya, aroma kopi hitam kembali tercium. Hangat. Nyata. Kehadiran seseorang yang baru saja datang ke dalam hidupnya.

Seseorang bernama Maya.

Example 728x250
banner 200x800
banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250

Jangan Copy Paste Tanpa Izin