ELTV SATU ||| CIREBON – Sebuah usaha rumahan pembuatan peti kayu di Desa Belawa RT 05/01 Blok A, Lemah Abang, Kabupaten Cirebon, yang sudah berjalan sejak Februari 2007, hingga kini belum pernah tersentuh bantuan dari pemerintah. Usaha yang memproduksi peti mangga, peti telur, dan peti kesemek tersebut dijalankan oleh pasangan suami istri, Bapak Nana Rohmana dan istrinya.
Istri dari Nana Rohmana, yang menjadi narasumber utama dalam wawancara pada Selasa, 25 November 2025, menyampaikan kebingungannya mengapa usaha yang telah bertahan hampir 18 tahun ini belum pernah mendapat dukungan.
“Kami juga tidak tahu kendalanya apa. Usaha ini sudah berjalan hampir 18 tahun, tapi belum pernah dapat bantuan apa pun,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pihaknya pernah mengajukan proposal bantuan UMKM, namun sudah lupa tahun tepatnya. Proposal tersebut diserahkan ke RT setempat, dan setelah itu tidak ada kejelasan lebih lanjut. Kendala terbesar yang dihadapi adalah masalah modal, disusul keterbatasan peralatan kerja serta ketiadaan kendaraan untuk distribusi.
“Modal itu yang paling menunjang semuanya. Kalau tidak ada modal, sulit sekali bagi kami untuk mengembangkan usaha,” katanya.
Saat ini pemasaran masih terbatas pada pembeli di wilayah sekitar seperti Belawa, Ciawi, dan Gumulung. Karena tidak memiliki kendaraan, pihak usaha hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung mengambil pesanan.
“Barang biasanya diambil pembeli sendiri karena kami tidak punya kendaraan untuk mengantarkan,” ungkapnya.
Kondisi ini membuat jangkauan pemasaran semakin terbatas dan sulit berkembang ke wilayah lain. Walau penuh keterbatasan, usaha ini tetap memberikan manfaat bagi warga sekitar. Beberapa masyarakat mendapat kesempatan kerja, dan sebagian lainnya merasa terbantu dengan keberadaan UMKM tersebut.
Sebagai penutup, istri pemilik usaha berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap UMKM kecil yang sudah bertahan lama namun kurang difasilitasi.
“Tolong kami diberi bantuan modal atau fasilitas yang bisa menunjang. Kami ingin sekali mengembangkan usaha, tapi kami terbentur modal,” ucapnya.
Usaha peti kayu ini menjadi cermin nyata bagaimana UMKM akar rumput berjuang mandiri, menunggu dukungan agar bisa tumbuh dan berdaya saing di tengah kebutuhan pasar yang terus berkembang.


















