Selain literasi, Bupati Dian juga menyoroti beban administrasi guru yang berpotensi mengurangi fokus terhadap proses mendidik. Menurutnya, guru harus memiliki ruang untuk meningkatkan kompetensi dan membangun kedekatan dengan peserta didik.
Persoalan kesejahteraan turut menjadi perhatian. Dian mengaku prihatin terhadap kondisi sebagian guru yang masih harus mencari penghasilan tambahan, bahkan terjerat pinjaman online ilegal demi memenuhi kebutuhan hidup.
“Ini bukan persoalan yang bijak jika hanya ditimpakan kepada guru dan kepala sekolah. Sistemnya juga harus kita perbaiki,” ujarnya.
Dian mengingatkan, revitalisasi sekolah harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas guru dan kemampuan siswa. Fasilitas yang semakin lengkap tidak boleh berbanding terbalik dengan mutu pembelajaran.
Ia pun meminta 50 kepala sekolah yang menerima amanah baru menjadikan jabatan sebagai ladang pengabdian, bukan sekadar jenjang karier.
“Anak-anak yang Bapak dan Ibu bimbing hari ini, kelak bisa menjadi camat, pengusaha, dosen, bupati, bahkan presiden. Ketika mereka berhasil, itulah kebanggaan yang tidak ternilai dengan uang,” tuturnya.
Bupati Dian berharap penugasan tersebut menjadi momentum pembenahan tata kelola sekolah sekaligus memperkuat komitmen peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Kuningan. (Heryanto)

















