Ia menilai, pengalaman wisatawan menjadi kunci. Wisatawan yang datang harus merasa nyaman, mendapatkan pengalaman berkesan dan terdorong untuk kembali berkunjung.

Karena itu, Dian meminta pengembangan wisata Cisantana tidak berhenti pada kunjungan singkat. Tantangannya adalah bagaimana wisatawan tinggal lebih lama, menginap dan membelanjakan uangnya di wilayah Cisantana.
“Jangan sampai wisatawan hanya datang, melihat-lihat, berfoto, kemudian pergi dan makan di daerah lain. Kita harus mampu membuat mereka tinggal lebih lama sehingga manfaat ekonominya dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Bupati juga menekankan pentingnya membangun kawasan wisata secara terintegrasi antar-desa. Menurutnya, setiap desa dapat mengembangkan keunggulannya masing-masing, mulai dari panorama alam, kuliner, kerajinan hingga seni dan budaya.
“Cisantana bisa dengan pemandangannya, desa lain dengan kulinernya, yang lain dengan kerajinan atau seninya. Semuanya saling melengkapi,” katanya.
Pengembangan pariwisata, lanjut Dian, juga harus berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi lokal. Pariwisata tidak boleh dipandang sebagai ancaman terhadap alam apabila dikelola secara berkelanjutan.
“Pariwisata, lingkungan dan ekonomi masyarakat harus berjalan seimbang. Sepanjang konsepnya berkelanjutan dan melibatkan masyarakat lokal, ketiganya bisa berdampingan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Cisantana Ano Suratno, A.Md., menyampaikan Milangkala ke-46 menjadi momentum mengevaluasi pembangunan sekaligus memperkuat kolaborasi. Menurutnya, pemerintah desa tidak dapat berjalan sendiri karena pembangunan membutuhkan dukungan masyarakat, pemuda, lembaga desa, dunia usaha dan berbagai pihak.
Senada dengan itu, Kepala Dusun Sukamanah Toni Kartono memaparkan perjalanan sejarah Cisantana dari masa ke masa. Ia mengingatkan pentingnya generasi sekarang mengenal sejarah, menghargai para leluhur serta menjaga adat dan budaya desa.
Bagi Bupati, seluruh potensi tersebut harus menjadi kekuatan bersama.
“Tidak ada daerah maju kalau masyarakatnya tidak kompak. Dengan silih asa, silih asih, silih asuh dan gotong royong, insyaallah Cisantana dan Cigugur akan semakin melesat,” pungkas Dian.(Heryanto)

















