Ia mengungkapkan, pada awal kontestasi Pilkada posisi pasangan Dian–Tuti berada pada tingkat survei yang sangat rendah. Bahkan, menurutnya, Tuti Andriani saat itu hampir tidak memiliki angka elektabilitas dalam sejumlah survei.
“Saya sendiri hanya sekitar enam persen. Sementara lawan-lawan kita memiliki angka yang jauh lebih tinggi, bahkan ada yang mencapai 60 persen dan 40 persen,” katanya.
Meski demikian, Golkar tetap berani menyatakan dukungan kepada pasangan tersebut di tengah situasi politik yang dinilai penuh ketidakpastian. Keputusan itu, menurut Dian, menjadi bagian penting dalam perjalanan politiknya bersama Tuti Andriani.
Ia juga mengisahkan berbagai tantangan yang dihadapi sejak masa pencalonan hingga setelah menjabat. Bahkan, saat mengikuti kegiatan retreat kepala daerah, ia sempat mengalami kegelisahan setelah menerima berbagai laporan kondisi daerah.
“Saya sempat sulit tidur hampir 12 hari setelah mendengar laporan tentang gagal bayar, defisit anggaran, kondisi jalan rusak, kemiskinan, hingga tingginya pengangguran,” ujarnya.
Karena itu, ia mengaku mengumpulkan para kepala dinas untuk berdiskusi hampir setiap malam guna mencari solusi terhadap berbagai persoalan tersebut.
Dian menegaskan, amanah yang diberikan masyarakat Kabupaten Kuningan menjadi tanggung jawab besar yang harus dijalankan bersama seluruh elemen pemerintahan serta dukungan partai-partai pengusung,tegasnya.”(Heryanto)


















