Ia juga menyebut sekolah tersebut mendapat perhatian di tingkat nasional. Bahkan, istri Elon Carlan menerima penghargaan langsung dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, atas kontribusinya dalam pendidikan bagi penyandang disabilitas.
Bahkan ada arahan langsung dari Bapak Presiden kepada para menteri untuk membantu pengembangan sekolah Taruna Mandiri,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Bupati menyoroti kondisi rata-rata lama sekolah di Kabupaten Kuningan yang masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan data tahun 2025, RLS masyarakat Kuningan tercatat 7,91 tahun atau setara dengan pendidikan hingga kelas 8 SMP.
Menurutnya, angka tersebut masih berada di bawah rata-rata provinsi maupun nasional sehingga perlu menjadi perhatian bersama.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah akan melakukan sejumlah langkah strategis, di antaranya validasi micro-mapping melalui pendataan anak usia 7–18 tahun yang tidak bersekolah secara door-to-door oleh aparat desa.
Selain itu, pemerintah juga akan melakukan sinkronisasi data dengan DTKS dan Dapodik agar anak dari keluarga kurang mampu dapat terdata dan memperoleh akses bantuan pendidikan.
Pemerintah daerah juga akan menganalisis penyebab putus sekolah melalui program Gema Sadulur, guna mengetahui faktor utama seperti kendala ekonomi, jarak sekolah, maupun pernikahan dini.
“Kita harus bekerja bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Kuningan. Ini bukan hanya tugas Dinas Pendidikan, tetapi tanggung jawab kita semua,” pungkasnya.(Heryanto)


















