
Dalam paparannya, Kompol H. Satori menjelaskan bahwa pola terorisme di Indonesia terus mengalami perkembangan yang dinamis. Jika pada periode sebelumnya aksi teror dilakukan secara terorganisir dan terpusat, kini ancamannya cenderung lebih tersembunyi, terfragmentasi, dan memanfaatkan ruang digital.
“Saat ini ancaman teror berkembang ke arah yang lebih tertutup dan tidak selalu terhubung langsung dengan organisasi. Banyak pelaku yang bertindak secara mandiri atau lone actor setelah terpapar paham ekstrem melalui dunia maya,” ungkap Kompol Satori.
Pasang Iklan Disini Scroll ke BawahScroll ke Bawah
Ia menambahkan, terorisme tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang diawali dengan penyebaran narasi intoleran dan eksklusif yang membelah masyarakat ke dalam kelompok “kami” dan “mereka”.
“Narasi tersebut diperkuat dengan propaganda kebencian, ketidakpercayaan terhadap negara, serta penolakan terhadap perbedaan. Inilah pintu masuk berkembangnya paham ekstrem,” jelasnya.
Kompol Satori menegaskan bahwa terorisme sama sekali tidak berkaitan dengan ajaran agama, budaya, maupun nilai luhur bangsa.
“Terorisme bukan ajaran agama atau budaya apa pun. Terorisme adalah kejahatan yang merusak rasa aman, memecah persatuan, dan mengancam masa depan generasi bangsa,” tegasnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi dan media sosial turut dimanfaatkan kelompok teror sebagai sarana penyebaran ideologi ekstrem, termasuk untuk membangun narasi kebencian dan menolak nilai-nilai kebangsaan.
“Kelompok teror saat ini banyak bergerak dalam jaringan kecil, tertutup, bahkan individual, sebagai upaya menghindari deteksi sekaligus memperluas pengaruh,” tambahnya.
Di akhir kegiatan, Kompol H. Satori mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya orang tua dan pendidik, untuk lebih peduli terhadap aktivitas digital anak dan lingkungan keluarga.
“Perkuat komunikasi dalam keluarga. Tanyakan apa yang mereka baca, siapa yang mereka ikuti, dan konten apa yang mereka konsumsi. Ingat, pencegahan terbaik dimulai dari keluarga,” pungkasnya.
Kegiatan Ngopi Bareng PWI ini diharapkan dapat memperkuat peran media dan masyarakat dalam menangkal penyebaran paham IRET serta menjaga kondusivitas dan persatuan bangsa. (Utoyo/Rocheli)


















