Scroll ke bawah
banner 300x300
banner 160x600
banner 160x600
Example 728x250
DaerahNewsTNI & POLRI

Densus 88 AT Polri Ngopi Bareng PWI Kota Cirebon, Bahas Pencegahan IRET

121
×

Densus 88 AT Polri Ngopi Bareng PWI Kota Cirebon, Bahas Pencegahan IRET

Sebarkan artikel ini
Example 728x250
Kompol H. Satori, S.H., M.M. dari Satgaswil Jabar Densus 88 AT Polri sebagai narasumber

Dalam paparannya, Kompol H. Satori menjelaskan bahwa pola terorisme di Indonesia terus mengalami perkembangan yang dinamis. Jika pada periode sebelumnya aksi teror dilakukan secara terorganisir dan terpusat, kini ancamannya cenderung lebih tersembunyi, terfragmentasi, dan memanfaatkan ruang digital.

“Saat ini ancaman teror berkembang ke arah yang lebih tertutup dan tidak selalu terhubung langsung dengan organisasi. Banyak pelaku yang bertindak secara mandiri atau lone actor setelah terpapar paham ekstrem melalui dunia maya,” ungkap Kompol Satori.

Pasang Iklan Disini Scroll ke Bawah
idth="300"
Scroll ke Bawah

Ia menambahkan, terorisme tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang diawali dengan penyebaran narasi intoleran dan eksklusif yang membelah masyarakat ke dalam kelompok “kami” dan “mereka”.

“Narasi tersebut diperkuat dengan propaganda kebencian, ketidakpercayaan terhadap negara, serta penolakan terhadap perbedaan. Inilah pintu masuk berkembangnya paham ekstrem,” jelasnya.

Kompol Satori menegaskan bahwa terorisme sama sekali tidak berkaitan dengan ajaran agama, budaya, maupun nilai luhur bangsa.

“Terorisme bukan ajaran agama atau budaya apa pun. Terorisme adalah kejahatan yang merusak rasa aman, memecah persatuan, dan mengancam masa depan generasi bangsa,” tegasnya.

Menurutnya, perkembangan teknologi informasi dan media sosial turut dimanfaatkan kelompok teror sebagai sarana penyebaran ideologi ekstrem, termasuk untuk membangun narasi kebencian dan menolak nilai-nilai kebangsaan.

“Kelompok teror saat ini banyak bergerak dalam jaringan kecil, tertutup, bahkan individual, sebagai upaya menghindari deteksi sekaligus memperluas pengaruh,” tambahnya.

Di akhir kegiatan, Kompol H. Satori mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya orang tua dan pendidik, untuk lebih peduli terhadap aktivitas digital anak dan lingkungan keluarga.

“Perkuat komunikasi dalam keluarga. Tanyakan apa yang mereka baca, siapa yang mereka ikuti, dan konten apa yang mereka konsumsi. Ingat, pencegahan terbaik dimulai dari keluarga,” pungkasnya.

Kegiatan Ngopi Bareng PWI ini diharapkan dapat memperkuat peran media dan masyarakat dalam menangkal penyebaran paham IRET serta menjaga kondusivitas dan persatuan bangsa. (Utoyo/Rocheli)

Example 728x250
Baca Juga :  Pameran Lukis Mandiri Jadi Ruang Ekspresi Seniman Binaan Disbudpar Cirebon
banner 200x800
banner 728x90
Example 728x250

Jangan Copy Paste Tanpa Izin