Ia menilai, berkurangnya daya serap lahan telah memicu terganggunya debit mata air dan menurunkan produktivitas pertanian di wilayah lereng gunung. Bahkan, matinya ikan dewa di kawasan TNGC disebut menjadi indikator menurunnya kualitas ekosistem air di kawasan tersebut.
Selain persoalan lingkungan, Yudi juga menyoroti temuan BRIN terkait aktivitas tektonik dan vulkanik purba di kawasan Lingkar Timur Kuningan. Temuan itu dinilai semakin memperkuat pentingnya langkah mitigasi dan pemetaan kebencanaan secara ilmiah serta menyeluruh.
Ia mengingatkan, apabila kerusakan kawasan hulu terus dibiarkan, masyarakat berpotensi menghadapi krisis air bersih saat musim kemarau, sekaligus ancaman banjir bandang, longsor, dan kerusakan lingkungan saat musim penghujan.
“Kami berharap pemerintah jangan menunggu bencana besar terjadi. Mitigasi harus segera dilakukan demi keselamatan lingkungan dan masyarakat. Semua pihak harus dilibatkan untuk mencari solusi bersama,” tegas Yudi.(Heryanto)


















