“Aku tidak bisa memilih,” gumamnya pada dirinya sendiri.
“Yang melahirkan memberiku hidup. Yang disayangi memberiku alasan untuk menjalani hidup itu. Tapi bagaimana caranya keduanya bisa ada tanpa saling menyakiti?”
Kadang, saat malam semakin larut, Surya berjalan sendiri di teras, menghirup udara lembap dan menatap hujan yang mulai mereda. Ia merenungi semua yang terjadi: rasa sakit yang diderita Cahya, kesalahan Rendi yang belum diperbaiki, dan ibunya yang hanya bisa menasihati dari jauh. Semua terasa berat, dan tak ada jawaban yang mudah.
Tetapi di tengah kesunyian itu, Surya menemukan pelajaran yang perlahan menguatkan hatinya. Hidup memang tidak selalu menuntut manusia untuk memilih antara darah dan cinta. Kadang, hidup hanya menuntut kesabaran, ketulusan, dan keberanian untuk tetap mencintai kedua sisi, meski luka tak kunjung sembuh, meski diam terasa lebih tajam daripada kata-kata.
Hari demi hari, Surya belajar untuk menjaga keseimbangan. Ia tetap menghormati ibunya, tetap mencintai Cahya, dan tetap menjaga rumah yang dulunya penuh tawa itu. Ia tidak tahu kapan luka akan sembuh, atau kapan Cahya bisa benar-benar memaafkan, tapi ia percaya bahwa cinta yang dewasa mampu menjadi jembatan di tengah jurang perasaan yang ada.
Dan saat Surya menatap malam yang sunyi, rintik hujan yang tersisa jatuh perlahan, ia tahu satu hal: cinta tidak selalu menuntut pilihan. Kadang, cinta hanyalah tentang menghadirkan diri, tetap setia, dan belajar memahami meski dunia terasa berat, dan hati terasa rapuh. (BERSAMBUNG)












