Langkah itu dinilai penting karena jalur tersebut menjadi akses vital bagi masyarakat, termasuk untuk mobilitas harian, distribusi hasil pertanian, hingga aktivitas ekonomi warga.
Pemerintah daerah juga mendorong agar material proyek yang masih bisa diselamatkan segera dievakuasi dan dimanfaatkan kembali untuk mempercepat penyelesaian pembangunan.
Pekerjaan Tetap Jalan, Tapi Target Mundur
Di sisi lain, Kepala Bidang Bina Marga DPUTR Kabupaten Kuningan, Tedy, memastikan bahwa pekerjaan fisik jembatan tetap bisa dilanjutkan, meski ada sejumlah kendala teknis akibat dampak banjir.
“Secara umum pekerjaan tetap berjalan. Beberapa bagian utama masih dalam kondisi aman untuk dilanjutkan,” ujarnya
Ia menjelaskan, struktur abutmen di sisi utara dan selatan jembatan masih dalam kondisi aman. Sementara bagian sayap utara yang sempat terdampak juga telah diperbaiki.
Untuk mempercepat penanganan, pihak rekanan disebut akan menambah dukungan alat berat berupa ekskavator berkapasitas lebih besar guna membantu proses evakuasi dan penanganan material di badan sungai.
Namun, tantangan terbesar saat ini adalah proses penanganan material besi jembatan sepanjang 50 meter yang sempat terbawa arus. Dari lima bagian struktur yang ada, satu bagian di antaranya disebut mengalami kerusakan cukup berat.
“Material besi yang terbawa arus sedang kami upayakan untuk ditarik kembali. Jika memang tidak memungkinkan diperbaiki, maka akan dilakukan penggantian demi menjamin keamanan struktur,” jelas Tedy.
Akibat kondisi lapangan, cuaca yang belum stabil, serta hilangnya pilar tengah jembatan, target penyelesaian proyek diperkirakan mundur sekitar tiga minggu dari jadwal awal.
Meski demikian, pemerintah memastikan tidak ada kerusakan fatal pada desain utama jembatan dan pembangunan akan tetap dilanjutkan dengan mengutamakan aspek keamanan, kekuatan, dan keselamatan konstruksi.
“Yang terpenting adalah keamanan dan kekuatan struktur. Kami upayakan akses masyarakat bisa segera normal kembali,” pungkasnya.(Heryanto)


















