Daskim mengaku telah mengabdikan diri sebagai marbot sejak sekitar akhir 2016. Selama menjalankan tugas, ia menghadapi berbagai suka dan duka, termasuk tantangan mengajak masyarakat memakmurkan masjid.
Menurutnya, pada awalnya jamaah salat berjemaah hanya sekitar dua hingga tiga orang. Namun berkat kesabaran, keistiqamahan dan ajakan yang terus dilakukan, jumlah jamaah perlahan meningkat hingga hampir memenuhi satu saf. Hal serupa juga terlihat pada jamaah perempuan.
“Tidak mudah. Tapi saya yakin dengan keistiqamahan dan keuletan dalam mengajak kepada kebaikan, lambat laun masyarakat akan mengikuti. Bagi saya, kuncinya istiqamah, istiqamah dan istiqamah,” katanya.
Daskim juga berpesan kepada para marbot agar tidak pernah lelah mengabdi kepada Allah dengan menjaga kebersihan, keamanan dan kemakmuran masjid.
“Jangan pernah patah semangat. Allah insyaallah akan memberikan yang terbaik, bahkan sesuatu yang tidak pernah kita duga. Ada rezeki yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka,” pungkasnya.
Bagi Daskim, kesempatan menunaikan umrah bukan sekadar penghargaan, tetapi menjadi momen emosional yang seolah menghidupkan kembali pesan terakhir sang bunda—bahwa doa orang tua, pengabdian dan keikhlasan pada akhirnya menemukan jalan jawaban.(Heryanto)


















