ELTV SATU || JAKARTA – Kesurupan sering dianggap sebagai tanda masuknya makhluk halus ke tubuh seseorang. Namun di sisi lain, banyak pakar psikologi melihatnya sebagai gejala kejiwaan yang kompleks — gabungan antara tekanan emosi, trauma, dan pengaruh sosial di sekitar individu.
Empat Jenis “Kesurupan” Menurut Pendekatan Psikologis
Dalam beberapa wawancara publik, sejumlah praktisi psikologi dan hipnoterapis menjelaskan bahwa fenomena yang sering disebut kesurupan sebenarnya bisa dikategorikan menjadi empat bentuk, dengan sebagian besar berakar pada faktor psikologis, bukan supranatural.
- Histeria (Abreaksi):
Orang yang berteriak, menangis, atau bergerak tidak terkendali sering kali mengalami pelepasan emosi akibat trauma atau stres mendalam. Dalam dunia hipnoterapi, ini disebut abreaksi, yaitu kondisi di mana emosi bawah sadar mengambil alih kendali tubuh karena individu tak mampu lagi menahan tekanan batin. - Dissociative Trance Disorder (DTD):
Jenis ini muncul ketika seseorang merasa “menjadi” sosok lain — misalnya mengaku sebagai penunggu suatu tempat. Kondisi ini disebut Disosiatif Trance Disorder (DTD) dalam psikologi klinis, di mana kepribadian sementara (alter ego) muncul menggantikan kesadaran utama, biasanya dipicu oleh trauma atau sugesti lingkungan. - Kesurupan karena Motivasi Eksternal:
Tidak jarang, fenomena kesurupan dimanfaatkan untuk kepentingan hiburan, konten digital, atau ritual publik. Dalam kasus ini, perilaku yang tampak “kesurupan” lebih merupakan ekspresi dramatik atau rekayasa sosial yang disengaja. - Kesurupan karena Unsur Spiritual:
Meskipun jarang, beberapa kasus diakui memiliki unsur yang sulit dijelaskan secara ilmiah. Beberapa praktisi ruqyah dan spiritualis menyebut sekitar satu dari seribu kasus bisa berkaitan dengan entitas non-fisik. Namun begitu, psikologi modern menyebut kondisi ini bisa dikaitkan dengan alter ego atau reaksi bawah sadar yang ekstrem.











