Scroll ke bawah
banner 300x300
banner 160x600
banner 160x600
Example 728x250
Kolom & Feature

Fenomena Kesurupan: Antara Trauma, Sugesti, dan Budaya

174
×

Fenomena Kesurupan: Antara Trauma, Sugesti, dan Budaya

Sebarkan artikel ini
Foto Ilustrasi
Example 728x250

Antara Ilmu dan Kepercayaan

Psikolog menekankan bahwa kesurupan tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari konteks budaya. Dalam masyarakat yang percaya pada dunia roh, pengalaman trans atau kerasukan sering diterima sebagai bagian dari ekspresi spiritual.

Namun secara ilmiah, gejala tersebut lebih sering dijelaskan sebagai gangguan disosiatif — di mana pikiran dan kesadaran seseorang “terpisah” sementara dari realitas.

Pasang Iklan Disini Scroll ke Bawah
idth="300"
Scroll ke Bawah

Kedua pandangan ini tidak harus bertentangan. Ilmu psikologi dan keyakinan spiritual dapat berjalan berdampingan, saling melengkapi untuk memahami sisi terdalam manusia — antara jiwa, pikiran, dan keyakinan.

Baca Juga :  Ketua umum gabungan wartawan Indonesia satu Asep Suherman SH mengucapkan selamat hari Bhayangkara ke 79 

Catatan:
Artikel ini disusun untuk memberikan pemahaman ilmiah mengenai fenomena kesurupan dari perspektif psikologi dan budaya, tanpa meniadakan keyakinan spiritual masyarakat. Sumber tulisan diambil dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) serta berbagai penelitian psikologi dan antropologi di Indonesia.


Referensi:

  1. American Psychiatric Association (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5).
  2. Lewis-Fernández, R., & Seligman, R. (2015). Dissociative Trance and Possession Disorders.
  3. Goodman, F. (1988). How About Demons? Possession and Exorcism in the Modern World.
  4. Jurnal Antropologi Indonesia, Universitas Indonesia (2017). Fenomena Kesurupan dan Dinamika Budaya Lokal.

(TIM REDAKSI)

Example 728x250
banner 200x800
banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Example 728x250

Jangan Copy Paste Tanpa Izin