Antara Ilmu dan Kepercayaan
Psikolog menekankan bahwa kesurupan tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari konteks budaya. Dalam masyarakat yang percaya pada dunia roh, pengalaman trans atau kerasukan sering diterima sebagai bagian dari ekspresi spiritual.
Namun secara ilmiah, gejala tersebut lebih sering dijelaskan sebagai gangguan disosiatif — di mana pikiran dan kesadaran seseorang “terpisah” sementara dari realitas.
Kedua pandangan ini tidak harus bertentangan. Ilmu psikologi dan keyakinan spiritual dapat berjalan berdampingan, saling melengkapi untuk memahami sisi terdalam manusia — antara jiwa, pikiran, dan keyakinan.
Catatan:
Artikel ini disusun untuk memberikan pemahaman ilmiah mengenai fenomena kesurupan dari perspektif psikologi dan budaya, tanpa meniadakan keyakinan spiritual masyarakat. Sumber tulisan diambil dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) serta berbagai penelitian psikologi dan antropologi di Indonesia.
Referensi:
- American Psychiatric Association (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5).
- Lewis-Fernández, R., & Seligman, R. (2015). Dissociative Trance and Possession Disorders.
- Goodman, F. (1988). How About Demons? Possession and Exorcism in the Modern World.
- Jurnal Antropologi Indonesia, Universitas Indonesia (2017). Fenomena Kesurupan dan Dinamika Budaya Lokal.
(TIM REDAKSI)












