Bagi sebagian masyarakat, tutut sebelumnya dipandang sebagai sesuatu yang kurang bernilai. Bahkan, ketika air waduk surut, cangkangnya dapat mengganggu wisatawan dan menimbulkan risiko bagi nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan.
Namun, masyarakat kemudian melihat persoalan tersebut sebagai peluang ekonomi.
“Kami mencoba berinspirasi dan berinovasi. Kita ingat bahwa tutut sejak dulu merupakan makanan tradisional. Dari situ kita mengubah tutut menjadi salah satu ikon daya tarik melalui berbagai inovasi produk, varian rasa dan branding,” jelas Sofyan.
Menurutnya, kreativitas tersebut mampu mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai menjadi sumber penghasilan masyarakat.
“Awalnya tidak memiliki nilai, tetapi dengan kreativitas, alhamdulillah perputaran ekonominya bagi warga masyarakat desa bisa mencapai ratusan juta rupiah per hari dan hampir miliaran rupiah per bulan,” ungkapnya.
Ia menilai pengembangan tutut tersebut merupakan gambaran bagaimana konsep Desa Sirkular dapat diterapkan. Sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah atau tidak memiliki nilai dapat diolah menjadi komoditas ekonomi.
“Ini salah satu contoh bagaimana sampah atau sesuatu yang sebelumnya tidak bernilai bisa menjadi nilai ekonomi. Ini yang ingin kita dorong melalui program Desa Sirkular,” ujarnya.
“Festival Harus Menghasilkan Jejaring, Bukan Sekadar Keramaian.”
Sofyan memastikan Festival BUMDes tidak berhenti di Waduk Darma. Selama enam bulan terakhir, rangkaian kegiatan telah dilakukan di 18 kabupaten/kota di Jawa Barat dan Kabupaten Kuningan menjadi lokasi penutup rangkaian tersebut.
“Festival ini akan selalu kita selenggarakan. Selama enam bulan ke belakang kita sudah melakukan rangkaian kegiatan di 18 kabupaten/kota di Jawa Barat dan ending-nya di Waduk Darma, Kabupaten Kuningan sebagai tuan rumah,” katanya.
Bahkan, agenda penguatan BUMDes ke depan ditargetkan tidak lagi sekadar berlangsung setiap tahun.
“Insya Allah ke depan kita selalu berjalan. Bahkan tidak menghitung tahunan lagi, tetapi kegiatannya bisa dilakukan setiap bulan,” pungkasnya.
Tantangannya kini adalah memastikan semangat tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Festival BUMDes Jabar 2026 seharusnya menjadi pintu masuk, bukan garis akhir. Produk desa harus mendapatkan pasar, pelaku usaha memperoleh pendampingan, akses pembiayaan semakin terbuka, dan kemitraan dengan dunia usaha benar-benar terbangun.
Sebab, jika setelah panggung festival dibongkar produk kembali tersimpan di rumah produksi tanpa pasar yang jelas, maka festival hanya akan menjadi etalase sesaat.
BUMDes harus naik kelas bukan karena sering tampil di festival, tetapi karena mampu menciptakan nilai tambah, membuka pasar, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan membuat ekonomi desa bergerak secara berkelanjutan.(Heryanto)

















