Scroll ke bawah
banner 300x300
banner 160x600
banner 160x600
Example 728x250
Kolom & FeatureNews

Filsafat Perlawanan: Dialektika Etika, Struktur, dan Kebebasan

22
×

Filsafat Perlawanan: Dialektika Etika, Struktur, dan Kebebasan

Sebarkan artikel ini
Example 728x250

Namun, filsafat perlawanan tidak hanya berbicara tentang individu atau tokoh besar. Ia juga hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat yang mengalami ketimpangan struktural. Perlawanan menjadi bahasa yang digunakan oleh mereka yang terpinggirkan untuk menegaskan keberadaannya. Dalam konteks ini, perlawanan bukan sekadar tindakan politis, tetapi juga kultural dan epistemologis. Ia menantang dominasi narasi tunggal dan membuka ruang bagi keberagaman perspektif.

Perlawanan juga memiliki dimensi dialektis. Ia tidak berdiri sebagai oposisi statis, tetapi sebagai proses yang terus bergerak. Dalam setiap perlawanan, terdapat kemungkinan reproduksi kekuasaan dalam bentuk baru. Oleh karena itu, filsafat perlawanan menuntut kewaspadaan kritis agar tidak terjebak dalam siklus penindasan yang berulang. Melawan bukan hanya soal mengganti siapa yang berkuasa, tetapi bagaimana mengubah logika kekuasaan itu sendiri.

Pasang Iklan Disini Scroll ke Bawah
idth="300"
Scroll ke Bawah

Di era kontemporer, ketika kekuasaan tidak lagi selalu tampil dalam bentuk represif yang kasat mata, perlawanan menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Kekuasaan kini bekerja melalui wacana, teknologi, dan produksi pengetahuan. Dalam situasi ini, perlawanan membutuhkan bentuk-bentuk baru yang lebih subtil, seperti dekonstruksi narasi, kritik media, dan produksi pengetahuan alternatif. Perlawanan menjadi kerja intelektual sekaligus praksis sosial.

Baca Juga :  Bupati Dian Tekankan Peran Strategis Pendidikan Kesetaraan

Pada akhirnya, filsafat perlawanan adalah refleksi tentang batas-batas ketaatan. Ia mempertanyakan sejauh mana manusia harus patuh, dan kapan ia harus menolak. Dalam dunia yang terus berubah, perlawanan menjadi penanda bahwa manusia masih memiliki kebebasan untuk mengatakan “tidak”. Dan justru dalam penolakan itulah, manusia menemukan kembali dirinya sebagai subjek yang merdeka.

Baca Juga :  Turnamen Sepakbola Bupati Cup Segera Dimulai

Oleh: Imam Royani / Learning for Emancipation and Future Transformation (LEFT) Institute
(Heryanto)

Example 728x250
banner 200x800
banner 728x90
Example 728x250

Jangan Copy Paste Tanpa Izin