Ia berharap FMTI tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan kolaborasi, regenerasi seniman, serta memperkuat ekosistem kebudayaan di Kabupaten Kuningan.
Festival tersebut menampilkan tujuh kelompok seni lokal, yakni Mangun Langgeng, Putra Pusaka, Swaralokananta, Pusaka Arya Kamuning 3, Gung-Gom and Friends, Merinding Disco, dan Wihendar Loka Musika. Selain itu, tampil pula Bungsu Bandung dari Sumedang dan Kelompok Seni Emuday dari Papua Tengah.
Rangkaian kegiatan juga diisi seminar musik tradisional adaptif dan kolaboratif yang melibatkan sekitar 100 guru seni budaya dan karawitan tingkat SMP, SMA, dan SMK.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia memberikan penghargaan kepada tiga tokoh musik tradisi Kuningan, yakni Sadari sebagai Penjaga Musik Tradisi, Gugun Gumelar, S.Sn., sebagai Penggerak Tata Kelola Festival Musik Tradisi, serta Wihendar, M.Sn., sebagai Penggerak Ekosistem Musik Tradisi.
FMTI 2026 merupakan program Kementerian Kebudayaan melalui pemanfaatan Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2026 dengan dukungan LPDP. Penyelenggaraan di Kuningan dilaksanakan oleh Perkumpulan Sanggar Setyo Langen Budoyo bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kuningan.
Melalui festival ini, Kuningan diharapkan tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga pusat tumbuhnya kreativitas dan regenerasi seniman. Tradisi harus tetap hidup, mengikuti perkembangan zaman, tanpa kehilangan akar budaya.(Heryanto)

















