Data Disdikbud mencatat, sebanyak 72 sekolah turut ambil bagian dalam kompetisi tersebut, terdiri dari 47 SMP dan 25 SMA sederajat. Setiap karya dipublikasikan melalui media sosial resmi sekolah, dengan penilaian mencakup kualitas visual serta tingkat interaksi digital seperti jumlah suka, komentar, dan bagikan.
Usai kompetisi, Disdikbud melakukan pemetaan kegiatan ekstrakurikuler seni budaya di sekolah-sekolah. Hasilnya mengarah pada penguatan konsep Konser Angklung Pelajar sebagai panggung ekspresi sekaligus motivasi bagi siswa.
“Dengan adanya target tampil di panggung besar, siswa akan lebih termotivasi untuk berlatih. Angklung tidak lagi sekadar kegiatan formal, tetapi menjadi bagian dari kebanggaan,” jelasnya.
Pada puncak Hardiknas mendatang, pertunjukan angklung akan menjadi sajian utama dengan melibatkan pelajar lintas jenjang, mulai dari PAUD hingga sekolah menengah. Penampilan dilakukan secara estafet sebagai simbol regenerasi pelestari budaya.
Selain itu, Pemkab Kuningan juga tengah memperkuat aspek historis angklung melalui penelusuran yang melibatkan sejarawan dan saksi hidup. Langkah ini dilakukan untuk memastikan legitimasi identitas Kuningan sebagai Kabupaten Angklung memiliki dasar yang kuat.
“Kami ingin memastikan sejarahnya valid dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga ketika identitas ini digaungkan ke tingkat nasional, tidak menimbulkan keraguan,” tutup Dr. Funny Amalia Sari.(Heryanto)


















