“Pembangunan masa depan Kuningan harus tetap memiliki akar sejarah. Kemajuan tidak akan bermakna apabila tidak dibarengi akhlak dan karakter yang mulia,” ujar Dian.
Ia juga mengajak masyarakat menjaga persatuan dan kondusivitas daerah serta tidak mudah terpengaruh isu yang dapat memecah belah. Pemerintah, ulama, tokoh masyarakat dan seluruh elemen warga, kata dia, harus berjalan bersama dalam membangun Kuningan.
Sementara itu, akademisi Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. H. Didin Nurul Rosidin, M.A., Ph.D., dalam pemaparannya menyampaikan bahwa haul harus menjadi ruang refleksi untuk mengenang jasa sekaligus menghidupkan kembali nilai perjuangan Syekh Maulana Akbar.
Warisan Syekh Maulana Akbar, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan dakwah, tetapi juga pendidikan, pembentukan komunitas dan kehidupan sosial masyarakat Kuningan.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara sejarah, spiritualitas dan pembangunan daerah. Pesan yang mengemuka sederhana namun kuat: sejarah tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dihidupkan sebagai inspirasi untuk membangun masa depan Kuningan.(Heryanto)


















