ELTV SATU ||| KUNINGAN – Sebanyak 300 pemuda mengikuti penguatan literasi digital dan Anti Hoaks yang digelar Kesbangpol Provinsi Jawa Barat. Dengan menghadirkan Narasumber dari Akademisi UPI dan UNPAD, Polda Jabar, dan Diskominfo Kabupaten Kuningan, di Gedung Sanggariang, Sabtu (21/2/2026).

Kepala Bidang Kewaspadaan Daerah Bakesbangpol Prov. Jawa Barat, H. Khoirul Naim, S.KM, M.Epid, menyebutkan, materi dan narasumber : “Peta Disinformasi Kebijakan Daerah Jabar: Pola Sebaran, Kanal, dan Motif” Prof. Dr. Cecep Darmawan, S.H, S.I.P, S.Pd, M.Si, M.H, CPM (Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia)
“Strategi Pemerintah Daerah Menangkal Hoaks Kebijakan: Monitoring, Klarifikasi Cepat, dan Manajemen Krisis Informasi” Nana Suhendra, MPd. (Kabid Komunikasi dan Informasi Publik Diskominfo Kab. Kuningan)
Keterbukaan Informasi Publik sebagai Vaksin Anti‑Disinformasi: Standar Layanan Informasi, Data, dan Akuntabilitas”, Prof. Dr. Dadang Rahmat Hidayat, S.Sos., SH., M.Si (Guru Besar UNPAD dalam bidang Jurnalistik dan Kajian Media)
Kelas Praktik Cek Fakta Isu Kebijakan Daerah: Verifikasi, Konteks Data, dan Counter‑Narrative, AKP Sunandar Permana Sidik, SH (Kanit 5 Subdit 1 Ditressiber POLDA Jabar).
Dengan Moderator MH.Khadafi Mufti, S.Pd., M.Si. Sekban Kesbangpol Kabupaten Kuningan.
“Kami sedang melakukan upaya-upaya pencegahan dalam kerangka mengantisipasi munculnya konflik sosial, radikalisme, kekerasan, termasuk hal-hal yang berkecenderungan terhadap instabilitas di daerah,” H. Khoirul Naim.
Menurutnya, kegiatan ini bertajuk Sosialisasi Literasi Digital dan Anti Hoaks: “Ngabedakeun Kaler jeung Kidul”. Saat ini kami sedang melakukan roadshow di Kabupaten Kuningan, khususnya mengenai isu-isu disinformasi yang terkait dengan kebijakan daerah. Saya kira hal ini perlu kita sampaikan kepada publik.
Menurutnya, menghadirkan empat narasumber dengan maksud dan tujuan untuk mengedukasi berbagai segmen masyarakat, mulai dari organisasi kemasyarakatan (ormas), tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga kaum perempuan.
Kami menghadirkan kurang lebih sekitar 300 orang untuk diberikan edukasi dalam rangka menyikapi isu-isu hoaks dan hal-hal yang belum tentu benar yang dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat kita.


















