Khatib menjelaskan, Idul Fitri memiliki makna kembali kepada kesucian, sebagaimana manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Hal ini merujuk pada firman Allah dalam Surah Al-A’raf ayat 172 yang menegaskan kesaksian manusia atas keesaan Tuhan.
Lebih lanjut, khutbah tersebut juga menguraikan dua makna utama Idul Fitri bagi orang beriman, yakni kembalinya jasad dari kemaksiatan menuju ketaatan, serta kembalinya hati dari kelalaian menuju ingat kepada Allah.
Menurut penjelasan ulama, kemaksiatan muncul dari empat sifat dasar manusia, yaitu sifat rububiyyah (merasa paling berkuasa), syaithoniyyah (menyerupai sifat setan seperti iri dan dengki), bahimiyyah (mengikuti hawa nafsu), serta sabu’iyyah (sifat buas seperti zalim terhadap sesama).
Melalui momentum Idul Fitri, umat Islam diharapkan mampu menekan sifat-sifat tersebut dan menggantinya dengan perilaku yang lebih baik, penuh ketaatan, serta senantiasa mengingat Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Khutbah juga mengajak jamaah untuk saling memaafkan, mempererat tali silaturahmi, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah guna menjaga kerukunan di tengah masyarakat.
Di akhir khutbah, khatib memanjatkan doa agar seluruh amal ibadah umat Islam diterima serta diberikan ampunan dan keberkahan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.(Heryanto)


















