Scroll ke bawah
banner 325x300
banner 160x600
banner 160x600
Example 728x250
Lifestyle & Hiburan

Kisah Nyata: Ditinggal Suami Saat Melahirkan Demi Istri Muda

142
×

Kisah Nyata: Ditinggal Suami Saat Melahirkan Demi Istri Muda

Sebarkan artikel ini
Foto Ilustrasi AI
Example 728x250

ELTV SATU ||| CERPEN – Di sebuah rumah sederhana di Kabupaten Cirebon, hiduplah seorang perempuan bernama Cahya, seorang istri sekaligus ibu dari tiga anak. Ia menikah dengan seorang lelaki asal Kota Padang, sebut saja Dami, pada tahun 1993 di Tangerang. Pernikahan mereka yang awalnya hangat dan dipenuhi tawa, berubah menjadi kenangan yang perlahan retak seiring waktu. Dari pernikahan itu lahirlah tiga anak: seorang perempuan sulung, lalu dua lelaki.

Pada kelahiran anak kedua, Guntur, badai mulai tampak di langit rumah tangga mereka. Cahya mulai melihat perubahan—tatapan Dami yang sering kosong, senyum yang mulai hambar, pulang yang makin jarang. Hingga akhirnya, kabar buruk datang seperti petir di siang bolong.

Pasang Iklan Disini Scroll ke Bawah
idth="300"
Scroll ke Bawah

“Dami… sudah menikah lagi,” ujar salah satu saudara Dami dari Padang melalui telepon. Suaranya lirih, tapi cukup tajam untuk menghancurkan dunia Cahya yang tengah mengandung tujuh bulan anak ketiganya.

Cahya terdiam. Dadanya sesak. Bayi di kandungannya bergerak seakan ikut merasakan guncangan dalam hati ibunya.

Baca Juga :  Komunitas Sastra “Ruang Kata” Gelar Malam Puisi di Yogyakarta

Malam itu ia hanya berpamitan pada ibunya dengan alasan hendak pergi ke Bandung. Namun sesungguhnya, Cahya nekad menempuh perjalanan panjang dari Cirebon menuju Padang. Dua hari dua malam ia duduk di bus yang berguncang, menahan sakit punggung, perih perut, dan duka yang membatu dalam dada.

Sesampainya di Padang, ia langsung menuju rumah orang tua Dami. Namun begitu pintu rumah itu terbuka, Cahya nyaris kehilangan pijakan. Ada perempuan lain di sana—muda, ayu, dan duduk manis seperti tuan rumah. Istri muda Dami.

Cahya berdiri terpaku. Udara terasa pekat. Ia menelan ludah yang pahit.

“Dami mana?” suaranya bergetar.

“Dia tidak di sini,” jawab perempuan itu datar, tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Cahya melangkah mundur. Rumah itu bukan lagi tempatnya. Hatinya robek, matanya panas. Ia berbalik dan meninggalkan halaman rumah tanpa berkata apa-apa. Tak ada suami yang menyambut. Tak ada tangan keluarga yang menguatkan. Hanya dirinya, dan anak dalam kandungan yang semakin mendekati waktu lahir.

Hari berganti. Kandungannya mencapai sembilan bulan. Dami menghilang, sulit dihubungi. Tak ada kabar, tak ada perhatian, seolah ia tak pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Baca Juga :  Etern Street Coffee, Tempat Nongkrong Favorit di Jalan Bahagia Cirebon

Dan di suatu hari yang dingin dan sunyi, di sebuah tempat asing yang bahkan tidak ia kenal namanya, perut Cahya terasa melilit hebat. Ia menahan dinding sebuah warung tua, tubuhnya gemetar.

“Bu… saya mau melahirkan…” bisiknya pada seorang perempuan tua yang lewat.

Dengan bantuan orang-orang baik yang tak pernah ia kenal sebelumnya, Cahya melahirkan anak ketiganya. Bayi itu menangis keras, mengisi ruangan kecil yang menjadi saksi lahirnya kehidupan baru—namun tanpa seorang suami, tanpa keluarga, tanpa siapa pun yang ia harapkan.

Beberapa jam setelah persalinan, ia mendengar kabar paling menyakitkan: Dami kabur, pergi bersama istri mudanya setelah tahu Cahya melahirkan. Lebih kejam lagi, ibu Dami mengusirnya begitu saja.

“Kamu pergi saja dari sini. Kami tidak mau urusanmu,” ujar sang ibu dengan dingin.

Cahya memeluk bayinya yang baru lahir. Matanya bengkak. Ia berdiri di depan rumah itu, diusir dalam kondisi tubuh yang masih lemah, darah yang masih mengalir, dan hati yang remuk tak tersisa.

Baca Juga :  Yuk Belanja Sandal di Do’ae Emak Bapak Harga Bersahabat

Beruntung, seorang warga membawa Cahya ke rumah sederhana untuk singgah sementara. Di sanalah ia menghabiskan beberapa hari, sembari menenangkan bayinya dan mengeringkan air mata yang tak lagi bisa ia hitung jumlahnya.

Beberapa hari kemudian, dengan suara bergetar dan hati yang koyak, Cahya menelpon keluarganya di Cirebon.

“Bu… kirimkan uang. Cahya ingin pulang,” ujarnya lirih.

Perjalanan panjang yang penuh luka itu akhirnya menuntunnya kembali ke rumah asal—di mana ia bukan hanya hendak pulang membawa bayi, tapi juga membawa kepingan hatinya yang berusaha ia rangkai kembali.

Dan sejak hari itu, Cahya berjanji pada dirinya sendiri:
Seburuk apa pun hidup memperlakukannya, ia akan menjadi cahaya bagi anak-anaknya.


Kisah nyata ini diangkat langsung dari keterangan narasumber, sebuah pengakuan yang lahir dari luka yang belum benar-benar sembuh. Setiap detail yang disampaikan membawa jejak air mata, perjalanan panjang, dan kepedihan seorang perempuan yang pernah ditinggalkan pada saat paling genting dalam hidupnya

Example 728x250
banner 200x800
banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Example 728x250

Jangan Copy Paste Tanpa Izin