ELTV SATU |||KUNINGAN — Wacana pengalihan Lembar Kerja Siswa (LKS) dari format cetak ke digital mulai mengemuka di Kabupaten Kuningan. Di balik semangat transformasi pendidikan berbasis teknologi, muncul peringatan agar kebijakan tersebut tidak dijalankan secara terburu-buru tanpa melihat kesiapan riil siswa di lapangan.
Ketua PGRI Kuningan,Ida Suprida saat menghadiri Rapat Paripurna DPRD pada Hari Senin (30-3-2026) menilai, digitalisasi LKS memang sejalan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan pembelajaran modern. Namun, kebijakan itu dinilai berpotensi menimbulkan persoalan baru jika tidak dibarengi kesiapan fasilitas dan akses yang merata.
“Kalau melihat perkembangan teknologi saat ini, bahan ajar digital memang dibutuhkan. Ini bisa menjadi solusi yang baik untuk mendukung kegiatan belajar siswa, khususnya saat mengerjakan tugas di rumah,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penerapan LKS digital tidak bisa hanya dipandang sebagai simbol kemajuan pendidikan. Menurutnya, persoalan utama justru terletak pada kemampuan siswa dan orang tua dalam mengakses perangkat penunjang pembelajaran.
Ia mengingatkan, belum semua keluarga memiliki kesiapan yang sama, baik dari sisi kepemilikan gadget, telepon pintar, hingga laptop. Ketimpangan akses inilah yang dinilai bisa menjadi batu sandungan jika kebijakan dipaksakan tanpa kajian matang.
“Memang hampir semua rumah punya alat komunikasi, tetapi apakah semua siswa benar-benar siap dan bisa mengaksesnya secara merata? Itu yang bisa menjadi kendala di lapangan,” katanya.
Peringatan itu menjadi penting, mengingat digitalisasi pendidikan kerap dipandang sebagai solusi instan, padahal di sisi lain masih menyisakan persoalan mendasar terkait pemerataan fasilitas belajar.
Karena itu, Ketua PGRI mendorong agar wacana LKS digital tidak berhenti pada gagasan modernisasi semata, tetapi juga diawali dengan pendataan dan verifikasi menyeluruh terhadap kondisi siswa di rumah. Tanpa langkah itu, kebijakan dikhawatirkan justru menambah beban keluarga, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan sarana.


















