ELTV SATU ||| Reflektif – Dalam kisah besar Ramayana, nama Rahwana sering dilukis sebagai lambang keangkaramurkaan. Ia diceritakan sebagai raja yang menculik Sinta, istri Rama, dan menawan perempuan itu di taman Alengka. Namun di balik kisah kelam itu, tersimpan satu sisi manusiawi yang sering luput dilihat: Rahwana juga seorang pencinta. Ia mencintai dengan seluruh rasa, tapi tersesat dalam caranya.
Cintanya kepada Sinta bukan sekadar nafsu duniawi. Dalam banyak versi kisah, terutama yang berkembang di Jawa dan Bali, Rahwana disebut jatuh cinta karena melihat pada diri Sinta bayangan Widawati, bidadari yang dahulu pernah ia cintai. Dalam pandangannya, Sinta bukan hanya perempuan, tapi penjelmaan takdir yang lama ia tunggu. Cintanya lahir dari kerinduan yang mistis — namun berubah menjadi obsesi yang membakar.
Rahwana ingin memiliki Sinta sepenuhnya, tapi lupa bahwa cinta sejati tak bisa dimiliki seperti harta. Ia menawan tubuh Sinta, padahal cinta tak hidup dalam penjara keinginan. Ia mencintai dengan hasrat, bukan kebijaksanaan; dengan api, bukan cahaya. Dalam dirinya, cinta dan ego bercampur, menjelma bara yang justru menghanguskan makna kasih itu sendiri.
Di titik ini, Rahwana menjadi cermin bagi banyak manusia. Berapa banyak di antara kita yang mencintai bukan karena ingin membahagiakan, tapi karena takut kehilangan? Kita memeluk, tapi justru mencekik. Kita menahan, padahal cinta sejati sering tumbuh dalam ruang keikhlasan.
Kisah Rahwana dan Sinta mengajarkan bahwa mencintai belum tentu memiliki. Karena kadang, cinta yang paling sejati justru hadir ketika seseorang berani melepaskan — saat ia belajar bahwa keindahan tidak selalu harus digenggam, cukup disyukuri dalam jarak yang menjaga maknanya tetap suci.












