“Pembangunan tidak bisa hanya dilakukan pemerintah sendiri. Dibutuhkan kekuatan sosial, spiritual, dan moral. Muslimat NU memiliki posisi strategis dalam membangun masyarakat yang religius, harmonis, dan mandiri,” ungkapnya.
Momentum Harlah ke-80 Muslimat NU juga dimanfaatkan sebagai ajakan untuk memperkuat ukhuwah dan menjaga persatuan di tengah tantangan era digital yang sarat hoaks dan ujaran kebencian.
“Tradisi bukan hanya cerita masa lalu, tetapi menjadi panduan untuk masa kini dan masa depan. Ketika fitnah dan hoaks bertebaran, kita harus kembali pada nilai-nilai kebersamaan dan tradisi yang luhur,” tambah Bupati Dian.
Sementara itu, Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Kuningan, Juju Juariyah, menyampaikan komitmennya untuk melanjutkan perjuangan organisasi serta memperkuat peran Muslimat NU agar semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Kami siap melanjutkan pengabdian para pendahulu dan terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam bidang sosial, pendidikan, kesehatan keluarga, pemberdayaan perempuan, dan penguatan nilai-nilai keagamaan,” tuturnya.
Ketua PW Muslimat NU Jawa Barat, Ela M. Giri Komala, turut mengingatkan pentingnya menjaga tradisi ke-NU-an sekaligus mampu menjawab tantangan zaman agar Muslimat NU tetap relevan dan memberi manfaat nyata bagi umat.
Kegiatan ditutup dengan penampilan hadroh, pemotongan tumpeng sebagai bentuk tasyakur binni’mah Harlah Muslimat NU ke-80, serta doa bersama untuk keberkahan dan kemajuan Muslimat NU di Kabupaten Kuningan.(Heryanto)


















