Sementara itu, di Keraton Kacirebonan, tradisi serupa digelar dengan suasana meriah namun tetap khidmat. Iring-iringan pusaka dan nasi jimat diarak dari dalam keraton menuju ruang utama. Jimat Kalimah Sahadat yang disimpan di Keraton Kacirebonan ditampilkan dengan panjang sekitar 8 meter, lebih pendek dari milik Kasepuhan, namun tetap sarat makna spiritual.
Perbedaan panjang jimat antara kedua keraton dianggap sebagai simbol keberagaman sejarah Cirebon. Meski berbeda, keduanya memiliki tujuan sama: meneladani kehidupan Nabi Muhammad SAW dan menjaga warisan budaya leluhur.
Warga yang hadir mengaku antusias dan bangga bisa menyaksikan langsung tradisi Panjang Jimat yang hanya digelar setahun sekali ini. “Ini warisan yang harus terus dijaga. Anak-anak muda juga perlu tahu bahwa Cirebon punya tradisi yang luar biasa,” ujar Rina (35), warga Harjamukti.
Tradisi Panjang Jimat di Cirebon telah menjadi agenda tahunan yang tak hanya menyedot perhatian masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan dari luar daerah dan mancanegara. (FJR-TASLIM)


















