“Jangan sampai ada yang merasa tidak membutuhkan orang lain ketika ada tetangga atau keluarga yang meninggal. Pada kenyataannya, kita tetap membutuhkan orang lain untuk membantu mengurus keluarga kita yang wafat,” tegasnya.
Lebih jauh, ia berharap pelatihan tersebut tidak hanya menghasilkan warga yang memahami aspek teknis pemulasaraan jenazah, tetapi juga mampu menghadirkan kesadaran spiritual.
Menurutnya, proses belajar mengenai pemulasaraan jenazah sekaligus menjadi pengingat bahwa kematian merupakan kepastian yang akan dihadapi setiap manusia.
“Ini menjadi pembelajaran bahwa suatu saat kita akan pergi menyusul jenazah tersebut,” katanya.
Karena itu, H. Otong meminta seluruh peserta mengikuti pelatihan secara serius, termasuk menyimak materi dan praktik yang diberikan. Ia juga mendorong peserta aktif bertanya apabila terdapat tahapan yang belum dipahami.
“Silakan disimak dan diikuti mentornya. Kalau ada hal yang belum kita ketahui saat disampaikan pemateri, silakan bertanya,” pesannya.
Pelatihan selanjutnya diisi dengan penyampaian materi dan praktik langsung pemulasaraan jenazah. Peserta diberikan pemahaman mengenai tata cara pengurusan jenazah, termasuk proses memandikan serta tahapan lain yang harus dilakukan sesuai ketentuan.
Pemerintah Desa Kramatmulya berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat diteruskan kepada masyarakat lainnya, sehingga semakin banyak warga yang memiliki kemampuan dan kesiapan untuk membantu proses pemulasaraan jenazah ketika dibutuhkan.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penguatan nilai gotong royong, kepedulian sosial dan kesadaran keagamaan di tengah masyarakat Desa Kramatmulya.(Heryanto)


















