Melalui sinergi antara kebijakan pusat dan daerah, Bupati berharap Majalengka dapat terus tumbuh sebagai daerah yang mandiri secara ekonomi, kuat secara sosial, serta berkelanjutan dalam pembangunan lingkungan.
Seperti diketahui, bahwa Kabupaten Majalengka, sejak lama dikenal memiliki dua ikon yang melekat kuat dalam ingatan masyarakat yaitu kecap Majalengka dan genteng Jatiwangi. Dari dua identitas itu, genteng Jatiwangi bukan sekadar produk bangunan, melainkan simbol warisan budaya, keterampilan turun-temurun, dan denyut ekonomi rakyat. Dengan kualitasnya dikenal kuat, tahan lama, dan menyatu dengan karakter rumah-rumah tradisional.
Mengalami masa keemasan pada tahun 1980-an sampai awal milenium, genting Jatiwangi jadi merek dagang terkenal yang memasok pasar di seluruh Indonesia, bahkan diekspor ke sejumlah negara di Asia dan Eropa. Jumlah pabrik genting Jatiwangi menjamur sampai angka 600-an jebor.
Zaman berubah. Majalengka pun berubah. Pembangunan bendungan Jatigede di perbatasan Sumedang Majalengka, Bandara internasional Kertajati, Tol Cileunyi Sumedang Dawuan yang terhubung dengan tol Cipali, menandai dimulainya era industri di kawasan tersebut.
Sampai saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 120-an pabrik genting yang masih berusaha tetap hidup. Generasi mudanya lebih suka kerja di pabrik manufaktur besar yang bersih dan terlihat lebih keren.
(Biro Majalengka)


















