“Atas nama pemerintah daerah, kami mengapresiasi kontribusi Bank Kuningan dan seluruh pihak yang terlibat. Ini adalah bentuk kemandirian dan kolaborasi dalam pembangunan daerah,” tambahnya.
Selain menjadi ikon budaya, lokasi Tugu Angklung juga diharapkan dapat menjadi ruang publik yang produktif, seperti untuk kegiatan diskusi, pertunjukan seni, hingga mendukung geliat ekonomi masyarakat di kawasan wisata Cigugur.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga mendorong promosi batik khas daerah “Baciklung” (Batik Ciprat Angklung) sebagai identitas budaya baru yang dapat digunakan oleh pelaku pariwisata dan masyarakat luas.
Lebih jauh, ia menekankan filosofi angklung yang sarat makna kebersamaan. “Satu angklung hanya menghasilkan satu nada, namun ketika dimainkan bersama akan melahirkan harmoni yang indah. Ini menjadi simbol bahwa pembangunan harus dilakukan secara bersama-sama,” jelasnya.
Konsep pentahelix—yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media—pun dinilai menjadi kunci dalam mendorong kemajuan daerah.
Mengakhiri sambutannya, Bupati secara resmi meresmikan Tugu Angklung dengan mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”, sebagai penanda dimulainya fungsi tugu tersebut sebagai ikon budaya Kabupaten Kuningan.
Dengan diresmikannya Tugu Angklung, diharapkan masyarakat semakin mencintai dan melestarikan budaya lokal, sekaligus memperkuat identitas Kuningan sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan nilai kebersamaan.(Heryanto)


















