Namun, salah satu momen paling menyentuh justru hadir di luar pertandingan utama. Laga eksibisi antara Patrin Garut dan Patrin Jawa Barat menjadi simbol kuat inklusivitas dalam olahraga.
Pertandingan ini menunjukkan bahwa futsal adalah milik semua kalangan. Para atlet tunarungu tampil penuh semangat, bahkan mendapat pendampingan langsung dari bintang futsal nasional seperti Adom dan Bambang Bayu Setiaji.
Tak hanya itu, panitia juga menghadirkan “Goalkeeper Battle” yang memberi ruang khusus bagi penjaga gawang muda untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya—sebuah langkah yang jarang mendapat sorotan, namun krusial dalam pembinaan tim.
Presiden Proton FC, Thony Indra Gunawan, menegaskan bahwa turnamen ini bukan hanya tentang menang dan kalah, melainkan tentang membangun masa depan futsal Indonesia.
“Ini bagian dari gerakan besar untuk pengembangan futsal. Kami juga ingin memastikan olahraga ini inklusif, memberi ruang bagi semua, termasuk atlet disabilitas,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Branch Manager West Java Hisense Indonesia, Rendra Firman, yang menyebut ajang ini sebagai bentuk komitmen nyata dunia industri terhadap olahraga.
“Kami ingin terus tumbuh bersama masyarakat. Hisense Cup menjadi bagian dari kontribusi kami untuk perkembangan futsal, sekaligus langkah menuju semangat World Cup 2026,” katanya.
Di akhir turnamen, SMPN 51 Bandung tampil sebagai juara pertama, disusul SMPN 1 Kota Tasikmalaya di posisi kedua, serta MTS Persis 76 Tarogong dan MTS Darussalam di peringkat berikutnya. Sejumlah penghargaan individu juga diberikan kepada pemain dan pelatih terbaik.
Lebih dari sekadar kompetisi, Hisense Cup 2026 meninggalkan pesan penting: masa depan futsal Indonesia sedang dibangun hari ini—di lapangan-lapangan sekolah, oleh anak-anak muda yang bermain dengan mimpi besar.(Heryanto)


















