Ia menegaskan, pelestarian situs sejarah bukan hanya soal menjaga bangunan tua, melainkan juga merawat ingatan kolektif bangsa agar generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarahnya.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah dan budaya,” lanjutnya.
Rokhmat menilai revitalisasi Gedung Sjahrir dan Gedung Naskah Linggarjati akan memberi dampak penting, bukan hanya pada aspek pelestarian fisik bangunan, tetapi juga sebagai ruang edukasi sejarah bagi masyarakat dan generasi muda.
Ia juga mengapresiasi dukungan unsur Forkopimda Kabupaten Kuningan yang dinilai menunjukkan adanya keseriusan bersama dalam menjaga dan mengembangkan warisan sejarah daerah.
Menurutnya, kehadiran Bupati, Wakil Bupati, Dandim, Kapolres, Kajari, hingga Ketua DPRD menjadi sinyal kuat bahwa pelestarian sejarah dan budaya di Kuningan mendapat dukungan lintas unsur pemerintahan.
“Semua guyub. Ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan sejarah di Kuningan benar-benar ingin ditingkatkan kembali,” katanya.
Ia berharap perhatian pemerintah pusat terhadap situs-situs bersejarah di Kuningan dapat memperkuat kesadaran publik terhadap jasa para pejuang bangsa serta memperluas pemahaman sejarah di tengah masyarakat.
“Harapannya, masyarakat Kuningan dan bangsa Indonesia semakin mengenal para pejuang kita yang turut memerdekakan bangsa ini,” pungkasnya.
(Heryanto)


















