Orang tua diharapkan menjadi tempat yang aman bagi anak untuk bercerita, termasuk ketika mengalami perlakuan tidak menyenangkan, tekanan, atau perundungan di lingkungan sekolah maupun pergaulannya.
“Sekolah pertama bagi anak adalah rumah dan keluarga. Jangan sampai kita menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada guru, tetapi melupakan peran orang tua,” ungkapnya.
Ia menambahkan, anak perlu dibiasakan mengembangkan kemandirian, tanggung jawab, dan kepedulian melalui kegiatan sehari-hari. Pendidikan tidak cukup hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga harus membentuk karakter dan perilaku positif yang akan menjadi bekal anak dalam kehidupan bermasyarakat.
Wajib Belajar Prasekolah Perlu Kolaborasi Lintas Sektor
Lebih lanjut, Pipin mengapresiasi pelaksanaan sosialisasi wajib belajar satu tahun pendidikan prasekolah sebagai langkah strategis untuk memperkuat fondasi pendidikan anak usia dini.
Menurutnya, program tersebut harus dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor dengan melibatkan Disdikbud, Bunda PAUD di tingkat kecamatan dan desa/kelurahan, TP PKK, Dharma Wanita Persatuan, Bappeda, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Dinas Kesehatan, serta instansi yang membidangi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Kolaborasi itu diperlukan agar pendidikan prasekolah tidak hanya dipahami sebagai urusan lembaga pendidikan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Pipin juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan terhadap lembaga pendidikan dan tenaga pendidik. Kepercayaan tersebut harus berjalan seiring dengan tanggung jawab, komunikasi yang baik, serta komitmen bersama untuk memastikan anak memperoleh layanan pendidikan yang aman dan berkualitas.
Ia berharap para Bunda PAUD dan seluruh mitra pendidikan dapat meneruskan sosialisasi di wilayah masing-masing, sehingga pemahaman mengenai pendidikan prasekolah, pengasuhan positif, dan pencegahan bullying semakin luas di tengah masyarakat.
“Pendidikan bukan hanya milik sekolah, guru, atau Dinas Pendidikan. Ini merupakan tanggung jawab bersama. Kita harus membangun lingkungan yang membuat anak bahagia, merasa aman, dan tumbuh dengan karakter yang baik,” pungkasnya.
Melalui kegiatan tersebut, Disdikbud Kabupaten Kuningan berharap penguatan pendidikan prasekolah dapat berjalan beriringan dengan upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah anak, bebas dari perundungan, serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.(Heryanto)

















