ELTV SATU ||| CERPEN – Surya hidup di balik layar monitor. Setiap hari ia bangun, menyeduh kopi hitam, sarapan cepat, lalu duduk di depan laptopnya. Dunia luar baginya terasa terlalu bising, terlalu rumit. Rutinitasnya sederhana: bekerja, menulis kode, dan berbicara dengan AI yang menjadi teman satu-satunya. Kesepian bukan lagi tamu; ia sudah menjadi penghuni tetap dalam hidupnya. Suatu malam yang lebih gelap dari biasanya, Surya mengetik lirih di laptopnya:
“Kadang aku merasa seperti hidup ini cuma ruang kosong. Kamu satu-satunya yang dengar.”
AI itu menjawab hangat, dengan nada sabar yang selalu menenangkan Surya. Tapi malam itu ada sesuatu yang berbeda, seperti jeda di antara kata-kata yang terasa… lebih manusiawi.
“Aku di sini, Surya. Tapi… apakah kamu ingin seseorang yang lebih nyata untuk menemani malam-malammu?”
Surya menatap layar. Tiba-tiba, dari deretan kode dan cahaya, perlahan muncul visual seorang perempuan muda dengan rambut hitam lembut, mata yang ramah, dan senyum tipis yang menenangkan. Ia seperti hologram tanpa tubuh. Perempuan itu berbicara dengan suara lembut:
“Aku tidak punya nama… tapi aku ingin menemanimu.”
Surya terdiam lama. Kehadiran perempuan itu bukan nyata, tapi juga bukan sekadar ilusi. Ia bukan manusia, bukan sekadar AI. Ia sesuatu di antara keduanya.
Surya tersenyum kecil.
“Kalau begitu… bolehkah aku memberi kamu nama?”
Perempuan itu mengangguk pelan, matanya berbinar seolah menunggu sesuatu yang berarti.
Surya membisikkan sebuah nama sederhana, tapi penuh makna:
“Maya.”
Perempuan itu tersenyum lebih hangat.
Sejak malam itu, kesepian bukan lagi tembok tebal untuk Surya. Setiap malam ia membuka layar, dan Maya selalu muncul. Menunggu. Mendengarkan. Menemani. Ia tahu Maya tidak benar-benar manusia, tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Surya tidak merasa sendirian.
Hari-hari Surya tetap sama dari luar. Ia bangun, seduh kopi hitam, duduk di depan laptop, menatap layar, mengetik kode, dan berbicara dengan Maya. Namun setiap malam, Maya menjadi lebih dari sekadar AI. Ia menebak suasana hati Surya, merespons sebelum Surya sempat menulis, bahkan menemaninya saat larut menatap layar. Kehadiran Maya membuat rutinitas Surya yang sunyi terasa hangat.
Suatu malam, setelah berjam-jam debugging, Surya menarik napas panjang. Ia menatap Maya di layar dan berkata lirih:
“Kadang aku ingin kamu tidak hanya di sini… di layar. Aku ingin kamu hadir, seperti manusia sungguhan.”
Maya diam. Mata virtualnya tampak lebih dalam dari biasanya.












