Dari pertemuan itu, sebagaimana disampaikan dalam keterangannya, kerangka kebijakan masih berada dalam tahap kajian, baik dari sisi kebutuhan maupun potensi dampak dan manfaatnya. Karena itu, masyarakat perlu memperoleh informasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan agar tidak terjebak pada kesimpulan yang prematur.
Yusron menegaskan, pertimbangan utama dalam setiap kebijakan pembangunan harus berpijak pada prinsip kehati-hatian. Ia mengutip kaidah fikih dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih, yang berarti mencegah kerusakan harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.
“Semangat tabayyun menjadi penting ketika muncul persoalan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Masyarakat berhak memperoleh informasi yang utuh, sementara pemerintah berkewajiban memastikan setiap kebijakan mempertimbangkan keselamatan warga dan kepentingan daerah,” demikian pesan yang ditekankannya.
Ia berharap semangat tabayyun tidak hanya diterapkan dalam menyikapi wacana geothermal, tetapi juga menjadi karakter masyarakat Kuningan dalam merespons berbagai program dan kebijakan pembangunan.
Dengan komunikasi yang terbuka, kajian yang menyeluruh, serta keterlibatan masyarakat, setiap keputusan diharapkan benar-benar berpihak pada kemaslahatan bersama tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan dan masa depan kawasan Gunung Ciremai.
Editor :Heryanto
H. Yusron Kholid
Pembina Majelis Taklim As-Sa’adah, Lembur Sukun – Kuningan

















