Perluasan lahan tembakau di Majalengka merupakan langkah strategis untuk memanfaatkan potensi keunggulan komparatif wilayah. Dengan dukungan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Pemkab berkomitmen meningkatkan produktivitas sekaligus taraf hidup para petani, khususnya kelompok tani prasejahtera agar mampu naik kelas.
Selain itu, DKP3 Majalengka tengah melakukan pemetaan ulang dan maksimalisasi pemanfaatan lahan tidur serta lahan marginal agar menjadi lebih produktif. Menghadapi tantangan perubahan iklim di tahun 2026 ini, mekanisasi pertanian dan efisiensi penggunaan air menjadi kunci utama peningkatan indeks pertanaman (IP).
Kadis DKP3 menegaskan komitmen jajarannya dalam mengawal visi swasembada pangan nasional.
”Sebagai salah satu lumbung padi di Jawa Barat, Majalengka bangga bisa menjadi bagian dari pencapaian sejarah di mana Indonesia mampu menghentikan impor beras dan mencatat surplus hingga 4,1 juta ton sejak tahun lalu. Kami di daerah terus memacu produksi gabah dan komoditas pangan lainnya agar surplus ini tetap terjaga stabil, sekaligus memastikan pasokan pangan lokal aman serta harga di tingkat petani tetap menjanjikan,” tegas H. Gatot.
Pada panen raya Maret 2026 kemarin, produktivitas lahan di beberapa kecamatan (seperti Kertajati, Jatitujuh dan Jatiwangi) mencetak angka rekor yang sangat tinggi, yakni mencapai 10,7 hingga 11,5 ton per hektare. Angka ini mendongkrak akumulasi surplus beras di tingkat daerah secara signifikan.







