ELTV SATU || KUNINGAN – Pencegahan perundungan (bullying) terhadap anak membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari keluarga, guru, satuan pendidikan, hingga pemerintah dan masyarakat. Anak harus dididik dengan kasih sayang, diberikan rasa aman, serta diperlakukan sebagai subjek pendidikan, bukan sekadar objek yang harus mengikuti kehendak orang dewasa.

Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan, H. Pipin Mansur Aripin, S.Pd., M.Pd., saat mewakili Kepala Disdikbud Kuningan, Dr. Carlan, S.Pd., M.M.Pd., dalam kegiatan Gebyar Sosialisasi Wajib Belajar 1 Tahun Pendidikan Prasekolah di Ballroom Arya Kamuning, Lantai 3 Kuningan Islamic Center (KIC), Kamis (15/10/2026).
Dalam sambutannya, Pipin menegaskan bahwa upaya mencegah perundungan harus dimulai dari perubahan pola pikir orang dewasa dalam mendidik anak. Menurutnya, pendekatan pendidikan yang mengandalkan rasa takut, bentakan, atau hukuman tidak seharusnya menjadi dasar dalam membangun karakter peserta didik.
“Guru yang hebat hari ini bukan guru yang ditakuti anak, melainkan guru yang mampu menghadirkan keceriaan di dalam kelasnya. Jangan membuat suasana belajar menjadi tegang,” tegasnya.
Ia mengakui, pada masa lalu terdapat pandangan bahwa seorang guru harus ditakuti agar disegani dan dipatuhi murid. Namun, seiring perkembangan zaman dan pemahaman mengenai perlindungan anak, pola tersebut perlu dievaluasi.
Pipin menilai, lingkungan belajar yang menyenangkan akan membantu anak merasa aman, berani berpendapat, dan lebih mudah menerima materi pembelajaran. Karena itu, guru harus mampu membangun hubungan yang positif dengan peserta didik tanpa mengabaikan kedisiplinan dan tanggung jawab.
Menurutnya, tindakan yang dianggap biasa oleh orang dewasa belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh anak. Perlakuan seperti menjewer, membentak, atau mempermalukan anak perlu disikapi secara bijak dengan memperhatikan dampaknya terhadap kondisi psikologis dan perkembangan mereka.
“Jangan pernah menjadikan anak-anak sebagai objek dari sebuah kegiatan. Anak harus dilibatkan sebagai subjek, dihargai, didengarkan, dan diberikan ruang untuk berkembang,” ujarnya.
Keluarga Menjadi Sekolah Pertama Anak
Pipin juga mengingatkan bahwa pencegahan bullying tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama yang membentuk karakter, kebiasaan, dan perilaku anak sebelum mereka berinteraksi lebih luas di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, waktu anak berada di sekolah hanya sebagian dari keseluruhan waktu dalam kehidupannya. Karena itu, orang tua harus tetap mengambil peran utama dalam mendampingi tumbuh kembang anak, menanamkan nilai-nilai kebaikan, serta membangun komunikasi yang terbuka.

















