Pernyataan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa persoalan rendahnya partisipasi tidak semata-mata berada pada penyelenggara. Kesiapan BUMDes di masing-masing daerah serta efektivitas koordinasi di tingkat daerah juga menjadi faktor yang perlu dievaluasi.
Namun demikian, angka 11 dari 32 kecamatan tetap menjadi catatan penting bagi penyelenggara maupun pemerintah daerah. Terlebih, Kabupaten Kuningan memiliki potensi BUMDes yang cukup besar untuk ditampilkan dalam sebuah festival tingkat Jawa Barat.
Toto berharap kelemahan dalam pelaksanaan perdana tersebut tidak kembali terjadi pada agenda berikutnya. Menurutnya, festival semacam ini justru harus dimanfaatkan secara maksimal oleh BUMDes karena membuka peluang kerja sama yang tidak selalu diperoleh dalam kegiatan sehari-hari.
“Tujuan kami adalah memperluas jejaring antarsesama BUMDes. Kemudian menambah literasi dan edukasi. Misalnya bagi BUMDes yang masih terkendala permodalan, kehadiran lembaga keuangan bisa membuka peluang,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya mengangkat kembali profil BUMDes di tengah munculnya Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Menurutnya, keberadaan KDMP semestinya tidak membuat BUMDes kehilangan ruang, melainkan menjadi momentum untuk membangun kolaborasi.
“BUMDes ini sudah lebih dahulu ada. Jangan sampai keberadaan KDMP membuat BUMDes tertimbun. Harusnya kita bersinergi,” tegas Toto.
Ke depan, Forum BUMDes Jabar berharap kegiatan serupa dapat digelar secara rutin dengan persiapan yang lebih matang. Sosialisasi dinilai harus dilakukan jauh lebih masif agar seluruh BUMDes memiliki kesempatan untuk mengetahui sekaligus mempersiapkan diri.
“Harapannya, teman-teman seluruh BUMDes bisa mengetahui informasi seperti ini. Ini positif sekali. Mudah-mudahan ke depan bisa digelar secara rutin dan membantu teman-teman BUMDes,” pungkasnya.
BUMDes Festival Jabar 2026 akhirnya bukan hanya menjadi etalase produk dan inovasi BUMDes, tetapi juga membuka pekerjaan rumah besar: bagaimana membuat kegiatan tingkat provinsi benar-benar mampu menggerakkan BUMDes di seluruh daerah, bukan hanya diikuti oleh sebagian kecil peserta.(Heryanto)

















