Namun demikian, ia mengungkapkan bahwa dari sekitar 170 dapur MBG yang direncanakan, baru 8 hingga 10 dapur yang telah melaksanakan pelatihan mandiri dan memenuhi standar keamanan dasar.
Dalam pelatihan tersebut, Damkar memberikan materi teknis seperti penggunaan APAR yang benar serta teknik pemadaman sederhana, termasuk penanganan api pada peralatan memasak seperti wajan atau kuali.
“Kami ingin memastikan para pengelola tidak panik saat terjadi kebakaran, dan mampu melakukan penanganan awal secara mandiri sebelum api membesar,” tegasnya.
Terkait pelaksanaan, Andri menyebut pelatihan masih menghadapi sejumlah kendala, salah satunya proses penyesuaian internal di tingkat kecamatan. Dari empat sesi yang direncanakan, baru satu sesi yang terlaksana.
“Pembiayaan pelatihan juga mempertimbangkan kebutuhan operasional seperti perjalanan dinas, jumlah personel satu regu, pengisian ulang APAR untuk praktik, hingga kebutuhan bahan bakar,” tambahnya.
Ia pun mengimbau seluruh pengelola dapur MBG untuk proaktif mengikuti pelatihan dan terbuka saat dilakukan monitoring oleh petugas Damkar.
“Pelatihan ini sangat penting. Meskipun kami rutin melakukan pemantauan, kemampuan mandiri pengelola dalam memadamkan api adalah kunci utama dalam mencegah terjadinya bencana kebakaran,” pungkasnya.(Heryanto)


















