Ia menjelaskan, komunitas kopi Karangsari berawal dari inisiatif pemuda saat pandemi yang kemudian berkembang menjadi kelompok tani hingga koperasi.
“Sekarang tantangannya bukan lagi memulai, tapi menjaga konsistensi kualitas dan meningkatkan kapasitas produksi,” ujarnya.
Dede mengakui, keterbatasan produksi masih menjadi kendala utama di tengah tingginya permintaan pasar. Karena itu, diperlukan dukungan perluasan lahan serta peningkatan kapasitas petani.
Di sisi lain, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, memaparkan tren positif produksi kopi daerah. Pada 2025, produksi kopi robusta dari lahan sekitar 1.500 hektare mencapai 1.173 ton, sementara arabika dari 236 hektare menghasilkan 63 ton.
“Peningkatan terjadi setiap tahun. Namun ke depan, pengembangan akan difokuskan pada arabika karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” jelasnya.
Ia menambahkan, strategi pengembangan dilakukan melalui intensifikasi—meliputi perbaikan bibit, pola tanam, dan perawatan—serta ekstensifikasi dengan membuka lahan potensial, khususnya di wilayah di atas 1.000 mdpl.
Pemkab Kuningan juga memastikan akan terus memperkuat kolaborasi dengan sektor swasta dan offtaker guna menjamin stabilitas harga dan keberlanjutan pasar.
Dengan langkah tersebut, Kuningan tak hanya menargetkan peningkatan produksi, tetapi juga membangun reputasi sebagai salah satu sentra kopi unggulan Indonesia di kancah internasional.(Heryanto)


















