Ia menggambarkan skema pengelolaan dengan pembagian tanggung jawab kepada warga, misalnya masing-masing satu hingga dua hektare untuk ditanami dan dirawat. Namun, rincian teknis pelaksanaan skema tersebut masih perlu dipastikan.
Menurut Dedi, pendekatan itu diharapkan mampu menyatukan kepentingan ekonomi masyarakat dengan perlindungan lingkungan. Hutan yang terjaga akan memberikan manfaat jangka panjang, mulai dari ketersediaan air, produksi oksigen, hingga potensi pariwisata dan konservasi.
“Kalau saya menghitung nilai hutan, itu bukan persoalan dapat duit atau tidak. Coba dinilai, berapa nilai air, oksigen, pariwisata, dan konservasi? Hutan itu tidak ternilai. Saya berani mengeluarkan uang banyak karena melindungi sesuatu yang bernilai tinggi,” tegasnya.
Dialog berlangsung hangat dan sesekali diselingi canda antara KDM dan warga. Dalam kesempatan itu, Dedi juga menyinggung Bupati Kuningan serta berinteraksi dengan masyarakat yang hadir.
Gagasan tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam menjaga kawasan Gunung Ciremai. Tantangan berikutnya adalah memastikan skema pembagian lahan kelola, pendampingan, sumber penghasilan, serta jaminan perlindungan bagi warga dapat dirumuskan secara jelas dan dilaksanakan sesuai ketentuan.
Melalui pendekatan tersebut, pelestarian hutan diharapkan tidak berhenti pada pemadaman kebakaran dan penanaman pohon, tetapi berkembang menjadi upaya berkelanjutan yang menjaga ekosistem sekaligus membuka manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.(Heryanto)

















