Menurutnya, pembangunan JUT tidak hanya ditujukan untuk mendukung aktivitas pertanian dan mempermudah mobilitas petani, tetapi juga membuka akses alternatif bagi masyarakat ketika jalan utama di Dusun Puhun digunakan untuk kegiatan tertentu.
“Jalan ini sangat penting. Selain menunjang kegiatan usaha tani, juga menjadi jalan alternatif bagi masyarakat, terutama ketika akses utama digunakan untuk kegiatan warga,” jelas Atif.
Ia menambahkan, pembangunan jalan tersebut berawal dari musyawarah bersama tokoh masyarakat, lembaga desa, perangkat desa, serta warga pemilik lahan. Hasilnya, para pemilik tanah secara sukarela mengikhlaskan sebagian lahannya untuk digunakan sebagai akses jalan usaha tani.
Atif mengapresiasi partisipasi masyarakat yang dinilainya menjadi faktor penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur desa. Ia berharap pengorbanan warga tersebut membawa manfaat luas dan menjadi amal jariah bagi para pemilik lahan.
Meski demikian, Atif mengakui alokasi anggaran Rp150 juta belum mampu menuntaskan seluruh kebutuhan pembangunan secara maksimal. Pekerjaan mencakup badan jalan serta konstruksi pendukung, termasuk saluran air, sehingga kebutuhan pembiayaan menjadi salah satu tantangan dalam penyelesaian infrastruktur tersebut.
Di sisi lain, ia mengaku melihat antusiasme masyarakat terhadap pembangunan jalan tersebut. Warga menyambut positif kehadiran akses baru yang diharapkan dapat memperlancar kegiatan pertanian sekaligus meningkatkan konektivitas antarwilayah.
“Alhamdulillah, masyarakat sangat antusias dan gembira. Mudah-mudahan jalan usaha tani ini benar-benar memberikan manfaat bagi petani dan seluruh masyarakat,” ujarnya.
Pembangunan JUT Cinagara diharapkan menjadi salah satu upaya memperkuat infrastruktur pertanian di tingkat desa. Dengan akses yang lebih memadai, aktivitas pengangkutan hasil pertanian diharapkan semakin mudah, sementara keberadaan jalur alternatif dapat membantu mobilitas masyarakat setempat.(Heryanto)

















