Menurutnya, kompetisi usia dini menjadi fondasi penting untuk melahirkan generasi pesepak bola masa depan yang mampu mengharumkan nama daerah. Karena itu, PSSI Kuningan berkomitmen terus mengawal dan membina pembinaan sepak bola usia muda secara berkelanjutan.

“Kami ingin dari kompetisi ini muncul bibit-bibit pemain terbaik yang kelak membela Kuningan. Pembinaan akan terus dilakukan mulai usia 10, 12, 14 hingga 19 tahun. Bahkan kami berharap nantinya terbentuk tim SSB PSSI Kabupaten Kuningan sebagai wadah pembinaan yang lebih terarah,” tambahnya penuh optimisme.
Sementara itu, suasana haru dan bahagia juga dirasakan para pemain KES Tunas Banantaka usai memastikan gelar juara U-19. Salah seorang pemain, Farhas Setya Maulana mengaku bangga atas perjuangan timnya hingga mampu membawa kemenangan besar.
“Perasaan saya sangat senang dan bahagia karena Tunas Banantaka bisa memenangkan pertandingan dan menjadi juara. Ini hasil kerja keras semua pemain,” ungkapnya.
Rekan setimnya juga mengaku terharu karena keberhasilan tersebut membawa Tunas Banantaka melaju mewakili Kuningan ke tingkat provinsi.
“Saya sangat bangga bisa membawa nama Banantaka ke provinsi. Rasanya terharu dan bahagia,” ujarnya.
Meski meraih kemenangan meyakinkan, para pemain menyadari masih banyak hal yang perlu diperbaiki sebelum menghadapi persaingan di level lebih tinggi. Evaluasi dan latihan intensif akan menjadi modal penting agar mampu tampil lebih kuat di tingkat provinsi nanti.
Liga Jabar Istimewa 2026 bukan sekadar ajang perebutan gelar juara, tetapi menjadi panggung lahirnya harapan baru sepak bola Kuningan. Dari lapangan hijau Stadion Mashud Wisnusaputra, mimpi-mimpi para pemain muda mulai tumbuh, membawa harapan besar bagi masa depan sepak bola daerah yang lebih gemilang.(Heryanto)


















