Pencarian pertama dilakukan oleh keluarga yang kemudian disusul warga sekitar. Sedikitnya lima orang awalnya menyisir area persawahan sebelum jumlah pencari terus bertambah.
“Waktu saya sampai di lokasi, sudah ada warga yang mencari. Malamnya bahkan lebih dari 100 orang ikut turun tangan,” ujar Subarman, adik sepupu korban.
Pencarian terus dilakukan hingga larut malam, termasuk menyusuri aliran sungai di sekitar lokasi. Warga bahkan rela turun langsung ke sungai untuk memastikan setiap titik.
“Sampai jam 12 malam, bahkan setengah dua dini hari baru selesai. Sungai juga diubek-ubek, kedalamannya sampai sedada, tapi korban belum ditemukan,” katanya.
Menurut keluarga, kondisi aliran sungai relatif kecil sehingga kecil kemungkinan korban hanyut. Namun, terdapat titik pusaran air (kedung) yang cukup dalam dan menjadi fokus pencarian.
“Airnya memang tidak besar, tapi ada pusaran yang dalam. Itu sudah dicari berkali-kali, saya sendiri sampai empat kali turun ke sungai tanpa alas kaki, tapi tetap tidak ada,” ungkapnya.
Dalam proses pencarian, tim gabungan dari relawan, Tim SAR, kepolisian, dan Damkar turut dilibatkan. Namun hingga hari kedua, hasil masih nihil.
Keluarga juga memastikan bahwa sebelum kejadian, tidak ada tanda-tanda permasalahan yang dialami korban. Aktivitas mencari rumput disebut sebagai rutinitas harian yang biasa dilakukan.
“Sejauh yang kami tahu, tidak ada masalah. Beliau memang setiap hari biasa cari rumput,” tambahnya.
Kini, keluarga hanya bisa berharap dan terus menanti kabar baik di tengah pencarian yang masih berlangsung.
“Kami hanya berharap, semoga korban segera ditemukan. Apa pun kondisinya, keluarga ingin kepastian,” ucap keluarga dengan suara lirih.(Heryanto)

















