Ia mengutip semangat perjuangan Bung Karno yang menegaskan bahwa tantangan setelah kemerdekaan jauh lebih berat dibanding perjuangan merebut kemerdekaan. Menurutnya, ancaman bangsa saat ini bukan hanya berasal dari luar, tetapi juga berupa kemiskinan, ketimpangan sosial, korupsi, ketergantungan ekonomi, serta lunturnya rasa memiliki terhadap bangsa sendiri.
Yusup berpandangan bahwa ketahanan nasional hanya dapat terwujud apabila kesejahteraan masyarakat menjadi prioritas utama. Petani, nelayan, buruh, pelaku usaha, hingga generasi muda, menurutnya, harus memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang dan menikmati hasil pembangunan.
Ia juga menegaskan bahwa konsep berdikari yang diwariskan Bung Karno bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan strategi membangun bangsa yang mandiri melalui penguatan industri nasional, ketahanan pangan dan energi, pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan, serta pemerataan hasil pembangunan.
Di akhir tulisannya, Yusup mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak sekadar mengenang Bung Karno sebagai tokoh sejarah, tetapi juga mengimplementasikan gagasan dan cita-citanya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, apabila kemiskinan terus meningkat, kedaulatan melemah, dan nasionalisme semakin memudar, maka Indonesia berpotensi menghadapi tantangan serius terhadap ketahanan bangsa. Karena itu, ia mengajak masyarakat kembali merenungkan pesan Bung Karno agar bangsa Indonesia tidak melupakan sejarah dan tetap menjaga cita-cita para pendiri bangsa sebagai arah menuju masa depan.(Heryanto)


















