Udin menjelaskan, dapur MBG yang memenuhi standar tidak hanya ditunjang oleh fasilitas yang memadai, tetapi juga oleh sumber daya manusia yang kompeten. Setiap dapur, kata dia, wajib melibatkan tenaga ahli seperti chef, ahli gizi, serta relawan terlatih dalam proses pengolahan hingga pemorsian makanan.
“Jika semua sesuai standar—mulai dari perizinan, bangunan, peralatan, hingga tenaga ahli—maka kualitas makanan yang dihasilkan juga akan baik,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa menu makanan dalam program MBG tidak disusun secara sembarangan. Seluruh komposisi telah diatur secara seimbang, mencakup protein hewani, sayuran, buah-buahan, susu, serta karbohidrat.
“Semua sudah ada standarisasinya. Kehadiran ahli gizi di dapur memastikan setiap menu yang disajikan benar-benar sesuai kebutuhan gizi,” tambahnya.
Udin menilai, program MBG merupakan langkah strategis pemerintah dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk berkomitmen menjalankan program ini dengan penuh tanggung jawab.
“Ini bukan program biasa. Ada tujuan besar untuk menciptakan generasi yang sehat dan kuat. Maka mari kita jalankan sesuai aturan agar manfaatnya benar-benar dirasakan merata oleh seluruh anak-anak,” pungkasnya.(Heryanto)


















