“Begitu anak masuk sekolah, potensinya langsung kami akui. Mereka diberi ruang untuk menunjukkan kemampuan masing-masing dan memperoleh penghargaan sesuai keunggulannya. Inilah simbol bahwa sekolah juga menghargai prestasi siswanya,” jelasnya.
Ariyanto menambahkan, sistem penghargaan tersebut tidak berhenti pada MPLS. Sepanjang tahun pelajaran, sekolah akan terus memberikan berbagai bentuk apresiasi pada bidang akademik, olahraga, seni, kepramukaan, hingga kepemimpinan.
Menurutnya, budaya penghargaan menjadi bagian penting dalam membangun rasa bangga peserta didik terhadap sekolah sekaligus memotivasi mereka untuk terus berkembang.
Ia menyebut layanan pendidikan di SMPN 2 Kuningan berorientasi pada tiga prinsip utama, yaitu Satisfaction (kenyamanan belajar), Happiness (kesejahteraan psikologis peserta didik), dan Dignity (membangun kebanggaan melalui pengakuan atas prestasi).
Prestasi siswa SMPN 2 Kuningan selama ini juga terus berkembang. Beberapa di antaranya berhasil menjadi duta budaya dan bahasa ke Malaysia, Thailand, dan Singapura melalui sekolah mitra, serta meraih prestasi di tingkat nasional hingga mewakili Kabupaten Kuningan pada ajang O2SN, FLS2N, bola voli, futsal, dan berbagai cabang lainnya.
Selain penghargaan, MPLS tahun ini juga dirancang sebagai meeting point dan melting point bagi seluruh peserta didik baru. Meeting point dimaknai sebagai media pertemuan seluruh warga sekolah, sedangkan melting point menjadi sarana melebur berbagai perbedaan latar belakang sosial, budaya, ekonomi, maupun geografis agar seluruh siswa tumbuh menjadi satu keluarga besar SMP Negeri 2 Kuningan.
“Keberagaman adalah kekuatan. Melalui MPLS kami ingin seluruh peserta didik saling mengenal, saling menghargai, dan bersama-sama tumbuh menjadi generasi yang berprestasi sekaligus berkarakter religi sesuai visi sekolah,” pungkas Dr. Ariyanto.(Heryanto)


















