“Siapa pun Bupatinya, ketika menjelang Hari Jadi Kuningan tidak pernah mewakilkan ziarah ke Winduherang. Ini ada apa?” ujarnya.
Udi bahkan menyampaikan ungkapan Sunda, “Mun kieu carana mah Bupati Kuningan nu ayeuna, erek nukangan kolot.” Ungkapan tersebut menggambarkan kekhawatiran bahwa perubahan atau pengabaian tradisi dapat dimaknai sebagai sikap menjauh dari penghormatan terhadap para pendahulu.
‘Ziarah Dinilai Bukan Sekadar Seremoni.”
Bagi masyarakat Winduherang, keberadaan makam leluhur memiliki nilai historis yang kuat. Ziarah menjelang Hari Jadi Kuningan dipandang sebagai momentum untuk mengingat kembali sejarah dan jasa para pendahulu sebelum masyarakat merayakan perjalanan Kuningan hingga usia 528 tahun.
Udi mengingatkan falsafah Sunda, “Hana nguni, hana mangke. Tan hana nguni, tan hana mangke,” yang bermakna bahwa masa kini tidak terlepas dari masa lalu.
Menurutnya, pembangunan dan kepemimpinan Kuningan hari ini merupakan bagian dari perjalanan panjang yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah serta perjuangan para pendahulu.
“Entah ini pertanda apa. Saya tidak ingin terlalu jauh menafsirkan. Satu pokok yang paling utama, kami masyarakat Winduherang sangat kecewa dengan kecerobohan ini,” katanya.
“Menunggu Penjelasan Pemerintah Daerah.”
Absennya Bupati dalam ziarah ke Winduherang kini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Apakah ketidakhadiran tersebut semata-mata karena persoalan teknis dan penjadwalan, atau memang terdapat perubahan dalam pola pelaksanaan tradisi Hari Jadi Kuningan?
Pertanyaan tersebut tentu menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk memberikan penjelasan.
Sebab, bagi masyarakat Winduherang, persoalannya bukan mengenai siapa yang datang berziarah, melainkan makna kehadiran langsung kepala daerah dalam menjaga sebuah tradisi yang telah berlangsung dari masa ke masa.
Hari Jadi Kuningan bukan hanya tentang seremoni, panggung dan kemeriahan. Di balik perayaan usia ke-528, terdapat sejarah panjang yang menjadi bagian dari identitas daerah.
Sebagaimana falsafah yang kembali diingatkan masyarakat Winduherang, “Moal aya ayeuna mun euweuh baheula.”
Tidak akan ada hari ini jika tidak ada masa lalu.(Heryanto)


















