ELTV SATU || KUNINGAN – Rencana Pemerintah Kabupaten Kuningan mengganti Tugu Bola Dunia di kawasan Bunderan Jalan Baru Ir. Soekarno dengan patung kuda menuai sorotan. Kebijakan tersebut dinilai perlu dikaji secara terbuka agar pergantian ikon daerah tidak sekadar menjadi persoalan selera pemerintahan.
Aktivis 98, Irman Syamsul Bahry, menilai kuda memang dapat dikaitkan dengan identitas Kuningan. Namun, menurutnya, hal itu bukan alasan otomatis untuk menghapus Tugu Bola Dunia yang telah lebih dahulu dikenal masyarakat.
“Kalau ukurannya ikon harus punya makna, Tugu Bola Dunia juga memiliki makna. Bola dunia bisa dimaknai sebagai keterbukaan, kemajuan dan cita-cita Kuningan untuk dikenal dunia,” ujar Irman.
Ia mempertanyakan dasar penggantian tersebut. Menurutnya, pemerintah perlu menjelaskan apakah Tugu Bola Dunia dinilai tidak lagi relevan, termasuk kajian yang mendasari keputusan untuk membongkarnya.
“Kalau tugu sebelumnya memiliki makna, mengapa harus dihapus? Jangan sampai makna sebuah ikon hanya ditentukan oleh siapa yang sedang berkuasa,” tegasnya.
Irman mengatakan, jika pemerintah ingin memperkuat kuda sebagai simbol Kuningan dan menyelaraskannya dengan slogan “Kuningan Melesat”, hal tersebut dapat dilakukan tanpa harus menghilangkan simbol yang sudah ada.
“Kalau kuda memang identitas Kuningan, silakan hadirkan. Tetapi kenapa harus dengan cara membongkar yang sudah ada? Identitas daerah bukan seperti mengganti spanduk setiap pergantian pemerintahan,” katanya.
Ia menegaskan, ikon di ruang publik bukan sekadar bangunan atau patung. Di dalamnya terdapat memori masyarakat, sejarah pembangunan serta jejak perjalanan daerah.


















