Dadang mengungkapkan, kondisi bangunan sekolah yang sudah berusia lebih dari 10 hingga 15 tahun turut menjadi perhatian. Bahkan, tujuh lokal bangunan yang berderet menunjukkan kerusakan cukup parah dan dikhawatirkan membahayakan keselamatan warga sekolah.
“Bangunan ini memang sudah cukup lama. Sebelumnya sekolah juga sudah masuk dalam daftar antrean rehabilitasi, tetapi sampai sekarang belum mendapatkan penanganan,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Komite SMPN 1 Luragung, Ir. H. Yayan Irman Suyana, berharap pemerintah segera memberikan perhatian serius terhadap kondisi sekolah pascabencana.
Menurutnya, kerusakan yang terjadi bukan hanya menyangkut fasilitas bangunan, tetapi juga berpotensi mengganggu keberlangsungan pendidikan para siswa.
Pihak sekolah bersama komite berharap adanya langkah cepat berupa pemeriksaan teknis, penanganan darurat, hingga rehabilitasi bangunan yang mengalami kerusakan berat.
“Harapan kami, pemerintah bisa segera turun tangan. Keselamatan siswa dan guru harus menjadi prioritas, sekaligus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan,” menjadi harapan pihak sekolah dan komite.
Kerusakan akibat angin kencang dan hujan es tersebut menjadi peringatan penting bahwa kondisi infrastruktur pendidikan perlu mendapat perhatian serius. Terlebih, bangunan sekolah yang mengalami kerusakan berat harus segera ditangani agar tidak menimbulkan risiko yang lebih besar.
Kini, pihak SMPN 1 Luragung menunggu langkah konkret pemerintah untuk memastikan ruang belajar kembali aman dan layak digunakan oleh para siswa.(Heryanto)

















